February 14th, 2006 by maestro

07. INT. RUMAH GUBUG KURO. SORE
Cast : Kuro, Kunti

Kuro dan Kunti ketika masuk dalam rumah, segera membuka topi dan kerudung. Setelah menutup pintu depan, Kuro dan Kunti segera pula menyiapkan ritual .

Batu pemberian Siluman diletakan diatas tumpukan dua lembar daun teratai. Kuro lalu meraih sebuah buntelan dan membukanya. Nampak sebuah tengkorak kepala manusia. Tengkorak kepala segera diletakan diatas daun teratai.

KURO :
Ini dulunya seorang perawan yang mati bunuh diri. Semoga kita
tidak keliru dengan petunjuk Junjungan, Kunti.

Kunti mempercepat ritual. Ia segera mengeluarkan segumpal rambut manusia.

KUNTI :
Dan ini rambutnya yang selalu dia keramasi dengan bunga teratai.

Kuro segera memerciki semua syarat dengan darah segar.

KURO :
Ini campuaran dua darah segar antara kita, bukti kesetiaan pada
Junjungan.

Kuro dan Kunti duduk berhadapan . Masing – masing bersemedi dan merapatkan kedua telapak tangan hingga mereka menyatu.

Ruang kamar ritual tiba – tiba gelap. Terdengar lengkingan yang menyerupai ringkikan kuda.Sekejap suara lengkingan menghilang, berganti suara parau dan serak Siluman buaya buntung.

BUAYA BUNTUNG :
Aku mengabulkan permintaan kalian. Tapi kalian
harus segera memberikan tumbal berikutnya !

Suara siluman menghilang, seketika muncul seberkas cahaya dari atas atap menyinari tengkorak kepala. Berbarengan dengan masuknya cahaya, sejumlah uang yang sangat banyak, masuk menyertai cahaya tersebut. Sekejap, uang berserakan dan menimbuni tengkorak kepala.

Perlahan Kuro dan Kunti membuka kedua matanya. Beberapa saat berdua memandangi tumpukan uang dengan takjub.

KURO
Kunti, kita harus bersukur dan berterima kasih pada junjungan.

KUNTI :
Tentu kang Kuro.

Kuro dan Kunti segera bersujud menghadap tumpukan uang.

Cut to

08. EXT. KEDAI BU ROM / JALAN DESA. SIANG
Cast : Pak Daim, Bu rom, Warga desa

Seorang warga desa yang istirahat makan siang di warung bu Rom. Setelah menaruh makanan di hadapan warga desa, Bu rom memperhatikan kondisi warga desa.

BU ROM :
Sekarang kamu kerja apa, dimana kerjanya ?

WARGA DESA:
Di desa sebelah desa kita Bu rom. Biasaa… bangunan.

Pak Daim yang tengah menyeruput kopi, menoleh pada warga desa.

Pak DAIM :
Di rumah siapa kamu kerja ?

WARG DESA :
Entah. Tapi sepertinya saya pernah mengenalnya.

PAK DAIM :
Hei maas.. kita harus mengetahui satu persatu orang. Ini penting.
Biarpun warga desa tetangga kita.

WARGA DESA :
Iya pak, tapi warga sekitarnya juga tak mengenalnya. Bahkan warga
sekitar heran, rumah yang dibangunnya, sangat besar.

BU ROM :
Hati – hati looh… desa kita lagi gawat !

PAK DAIM :
Aaakh … bu room, bu room. Selalu saja dikaitkan dengan desa kita.
Ada orang bangun rumah, juga dikaitkan. Heran saya ini !

Pak Daim langsung menyeruput kopi. Bu rom memandang kesal pada Pak Daim.

CUT TO
09. INT. KAMAR TIDUR RUMAH PAK DAIM. MALAM
Cast : Bu Daim, bayi, Pak Daim

Bu Daim mengeloni bayinya yang telah berusia sekitar dua tahun, di kamar tidur sambil bersenandung.

BU DAIM :
( Senandung ) Bubuuy bulan, bubuy bulan sangrai bintaang…
Panon poe …. ( dst )

Di pintu kamar, Pak Daim melongok sebentar ke arah Bu Daim.

PAK DAIM :
Buu…aku mau makan !

Bu Daim memperhatikan bayinya yang sudah tidur, lalu segera bangkit dan meninggalkannya ke luar kamar. Sebelum keluar, ia menoleh sesaat, dan pergi dengan
perasaan yang berat.

INTERCUT TO

10. INT. RUANGAN MAKAN RUMAH PAK DAIM. MALAM
Cast : Pak Daim, Bu Daim, Siluman

Pak Daim menikmati makan malam didampingi Bu Daim.

PAK DAIM :
Bu, kalau bisa kita cari pengasuh baru saja.

BU DAIM :
Enggak perlu paak… aku masih trauma dengan peristiwa dulu.

PAK DAIM :
Sudahlah Buu.. si Kunti tolol itu kan sudah kita usir dari desa ini.
Lupakan saja Buu… !

Inter Cut pada siluman buaya buntung yang melata masuk ke dalam kamar tidur Bu Daim. Siluman dengan leluasa naik ke atas tempat tidur. Saat ini bayinya Bu Daim terbangun dan menangis.

BU DAIM :
( Hendak Bangkit ) Sebentar pak aku tengok dulu.

PAK DAIM :
Sebentar buu… ambil air minumku dulu !

Bu Daim mengambil gelas dan menuang air dari teko secara terburu – buru, hingga air berceceran keluar dari dalam gelas.

BU DAIM :
Aduh paak… perasaanku kenapa mendadak enggak enak yah ?

PAK DAIM :
Itulah kalau kamu enggak mau cari pengasuh baru. Ngurus makan suami
saja enggak bener !

Selesai menaruh gelas air minum di hadapan Pak Daim, Bu Daim bergegas masuk kedalam kamarnya. Tiba – tiba jeritan dan teriakan ‘AaaaW’ Bu Daim mengejutkan Pak Daim. Nasi yang tengah dikunyahnya, menyemprot ke atas meja makan.

PAK DAIM :
Ada apa Buu … !

Pak Daim segera bangkit dan berlari masuk ke kamar .

CUT TO

11. INT. KAMAR TIDUR PAK DAIM. MALAM
Cast : Bu Daim, Pak Daim, bayi

Bu Daim menangis sambil menjerit dan meremas pakaian bayinya yang penuh berlumuran darah. Pak Daim terbelalak memandang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Semua isi kamar nampak semrawut tak karuan. Selain pada pakaian bayi, darah segar juga berceceran membasahi alas tidur dan lantai kamar.

Bu Daim mengangkat pakaian bayinya yang berlumuran darah, sambil menoleh ke arah Pak Daim.

BU DAIM :
( Meratap ) Lihat, lihat paak … anak kita…. ! Khiii ….khiii … khiiik …!

PAK DAIM :
Tidaak… tidaak …. mungkin, aku tidak percayaa … !
Ini biaadaab… !!

Pak Daim histeris. Ngamuk, meraih golok yang terselip di dinding dan berlari keluar kamar.

CUT TO

12. EXT. POS RONDA. MALAM
Cast : Pak Daim, Sukri, Ujo, warga desa

Sukri memegang pangkal kentongan dan menggenggam alat pukulnya, bersiap akan memukul kentongan. Pak Daim sambil memegang golok dengan wajah tegang menanti dengan tak sabar. Matanya liar memadang ke sekeliling pos ronda.

SUKRI :
Paak.. apa iya ada siluman di desa ini ?

PAK DAIM :
Cepat pukul kentongan ini, sebelum siluman itu jauh meninggalkan desa !

SUKRI :
Benar yah Pak Daim tidak salah lapor.

Sukri akhirnya memukul kentongan sekuat tenaga. Suara kentongan terdengar bertalu–talu, membahana seantero desa.

Intercut pada Ujo yang terbangun dari tidurnya didalam pos ronda.

UJO :
Aaahh..uuh! Sukri kalo mukul enggak kira – kira. Kayak enggak tahu ada
temen tidur saaja …!

Sesaat warga desa dari berbagai arah, muncul sambil membawa berbagai alat pemukul.
Sukuri menghentikan pukulan kentongnya.

WARGA DESA :
Mana malingnya, mana ?!

SUKRI :
Tenaang…paak, Ini bukan maling, tapi siluman !!

PAK DAIM :
Saudara – saudara cepat kejar siluman yang telah membinasakan anak
bayi saya. Cepaat … !

WARGA DESA :
Pak Daim, silumannya seperti apa tampangnya ?

Sesaat Pak Daim gelagapan, lalu mengarahkan goloknya ke warga desa yang menjengkelkannya.

PAK DAIM :
Kamu mau saya penggal atau mau percaya sama saya, ha !

Ujo yang baru muncul dari dalam pos, langsung melerai Pak Daim dan warga desa.

UJO :
Tahan pak, kami percaya memang ada siluman.Tenang Pak Daim. ( Pause )
Saudara – saudara kita harus segera mengejar siluman yang telah …..
( Menoleh ke Arah Pak Daim )

PAK DAIM :
Siluman biadab itu telah memangsa anak bayi sayaa … !
Cepaat … menyebar sebelum siluman itu jauh dari desa ini !

Pak Daim mendahului pergi dari pos ronda sambil mengangkat goloknya.
Serempak suara ‘ Hayooo… ‘ dan ‘ Cincaang…’ terlontar dari seluruh warga desa dan langsung menyebar .
Kembali suara kentong bertalu – talu mengiringi warga desa yang siaga dengan senjatanya masing – masing.

CUT TO

13. EXT. JALAN DESA/PEMAKAMAN UMUM. SIANG
Cast : Pak Daim, Bu Daim, warga desa, Kunti, Kuro

Dari arah jalan desa, iring – iringan usungan mayat yang dipimpin Pak Daim, membelok ke lokasi pemakaman umum. Di belakang usungan mayat, Bu Daim didampingi Bu Gani terisak menangis. Bu Gani menghiburnya.

BU GANI :
Bu daiim…sudahlah buu.. ! Relakan saja kepergian putra ibuu…!
Lihatlah saya Buu…. ! Saya juga telah kehilangan suami sayaa .. !

BU DAIM :
Saya masih belum bisa melupakan peristiwanya buu….
Hhuu..huu.. sungguh biadaab …! Kok teganya dia membunuh bayi,
kenapa tidak saya sajaa… yang matii…. Huu….uuh …!

BU GANI :
Buu .. nyebut buu…! Tidak baik bicara begituu..! Semua ini sudah ada
yang mengaturnya.

INTERCUT pada Kunti yang berdiri di seberang jalan lokasi pemakaman, dengan kerudung hitam yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Terpancar dari sorot matanya yang terus memandang tak berkedip pada Bu Daim, api dendam membara. Di sisinya, Kuro mendampingi sambil menunduk pakai topi laken yang berukuran lebar.

FLASH BACK

14. INT. TERAS RUMAH PAK DAIM. SIANG
Cast : Kunti, Bu Daim, Pak Daim, bayi, lilies

Kunti menyuapkan bubur, pada bayi yang tengah diasuh dan dipangkunya. Bayi ini berusia sekitar dua tahun. Muncul Lilies, kakak sang bayi, dari dalam rumah, Lilis langsung menggelendot manja pada Kunti, ikut duduk bersandar di pangkuan Kunti.

LILIS :
Dee… kakak ikut yaah naik mobilnyaa … !

KUNTI :
Lilis, hati – hati nanti kamu jatuh !

LILIS :
Biar saja jatuh, paling yang dimarahi Ibu bukan saya. Bi Kunti, huwee… !
( Mencibir, lalu Menjulurkan Lidah )

Kunti meghela nafas dalam – dalam, hingga lengah dan bayi asuhannya lepas control.
Lilis yang terus memaksa duduk, tak sadar mendorong adiknya hingga tergelincir, meluncur dan terjatuh ‘Dhuuk’ , kepala bayi membentur lantai.

Seketika jerit tangis bayi meledak dan mengejutkan Bu Daim dan Pak Daim yang berada di dalam rumah. Pak dan Bu Daim langsung melotot pada Kunti.

Kunti segera mengangkat dan mengusap – usap bagian kepala bayi yang memar dan benjol. Namun ternyata, benjolan memar ini ketika tersentuh tangan, terasa makin sakit dirasakan bayi. Tangisan bayipun semakin keras.

BU DAIM :
Kurang ajar. Dasar kerbau kamu Kunti. Berapa kali kamu telah menjatuhkan
anakku !

PAK DAIM :
Kemarin sudah peringatan terakhir. Sekarang kamu tidak ada ampun lagi.

Bu Daim merampas bayi dari dekapan Kunti, lalu memanpar Kunti ‘ ploak ‘

BU DAIM :
Kamu mau membunuh anak saya ?

LILIS :
Emang niih… bi Kunti sengaja buu… jatuhin dede !

Kunti merasakan pedas dan sakit pada wajahnya. Pak Daim panas mendengar pengaduan Lilies. Ia langsung menendang perut Kunti, hingga terjatuh duduk dan menangis.

PAK DAIM :
Pergi kamu dari sini, dari desa ini, aku muak melihat tampangmu !

Kunti berusaha bangkit, tapi perutnya terasa sakit akibat tendangan Pak Daim. Kunti terus berjuang untuk bangkit, namun ia hanya dapat merangkak meninggalkan teras rumah Pak Daim.

KUNTI :
Paak…Buu…maafkan sayaa…jangan sakiti saya lagii…

Kunti sambil menangis sesenggukan, terus merangkak dan dihalau oleh Pak Daim dan Bu Daim. Di depan hidung Kunti, Lilis mencibir dan menjulurkan lidahnya. ‘ Huweee…’!

PARALEL CUT

15. EXT. KANDANG KAMBING PAK GANI. SIANG
Cast : Kuro, Kunti, Pak Gani, Pak Daim, Tata, Warga desa

Berdiri di tengah – tengah pekarangan yang cukup luas, Pak Gani berang menyaksikan beberapa ekor kambingnya tergeletak mati keracunan.
Kuro berdiri mengkeret di sisi kandang kambing majikannya.

PAK GANI :
( Teriak ) Kuro, sini cepat !!

Kuro berjalan gemetaran ke arah Pak Gani. Keringat mengucur di seluruh tubuhnya.

PAK GANI : ( Cont’D )
Cepaat … dungu !

Tiba – tiba dari luar pekarangan muncul Tata, anak lelaki Pak Gani. Tata berjalan sambil menuding ke arah Kuro.

TATA :
Ini pak, si Kuro yang meracuni kambing – kmbing kita paak … !

KURO :
Bohong paak… bohoong …. Tidak mungkin saya berani melakukannya,
tidak mungkin paak … ! Ini pasti fitnah paak .. !

PAK GANI :
Oooh …. Jadi kamu pikir anak saya tukang fitnah, iyaa… ?

Pak Gani melepas ikat pinggang yang berkepala besar, lalu diputar – putar dan diarahkan ke Kuro,yang kini sudah dekat dengan Pak Gani, makin gemetar dan tak sadar terkencing.

KURO :
Tidak pak. Bukan begitu maksud saya.

WARGA DESA : ( OS )
Paak ganii … paak .. Pak Ganii … !!

Tiba – tiba terdengar teriakan orang memanggil Pak Gani. Serempak menoleh ke arah suara teriakan.

Muncul warga desa dari luar pekarangan datang berlari dan langsung ke depan Kuro.
Nafasnya tersengal – sengal.

PAK GANI :
Ada apa pak ?

WARGA DESA :
Paak .. Pak Gani, kambing saya juga pada mati semuaa … gawat paak … !

PAK GANI :
Ini biangnya.

Warga desa tanpa bicara ba atau bu, langsung menghajar hidung Kuro hingga berdarah.

WARGA DESA :
Khhii… rasakan sekarang pembalasanku.

KURO :
Ampuun … ampuun …paak … ( Melihat Darah Sendiri )
Aaaa.. Ha !! bapaak … bapak keterlaluaan .. terlaluu … hu .. hu ..

WARGA DESA :
Itu belum sebanding dengan semua kerugianku !! Chuaeh ! ( Meludah )

PAK GANI :
Hei dengar, berapa kali sudah aku mengalami kerugian seperti ini.
Dulu aku maafkan. Tapi sekarang, kau harus ikut makan daun yang telah
kau campur racun, hingga kambingku mati. Hayo makan cepat !! Hayo !!

Kuro makin mengkeret dan mundur menjauh dari Pak Gani. Pak Gani geram. Ia lompat sambil menendang ke arah Kuro. Seketika Kuro jatuh terjerembab.

KURO :
Ampun pak ampuun … jangan siksa saya paak …! Biarlah saya pergi
dari desa tempat kelahiran saya ini paak .. !!

PAK GANI :
Oooh … naantaang…. !! Bagus kalau mau pergi dari sini. ( Pause )
Pak, mari kita halau sampah ini !

WARGA DESA :
Pak Gani, seluruh warga desa harus diberi tahu. Barangkali mereka juga
dirugikan oleh perbuatannya.

PAK GANI :
Bagus pak. Hayo, sambil menghalaunya, kita beritahukan pada seluruh
Warga desa !

Warga desa melompat sambil menendang ke arah pelipis Kuro. ‘Dhuk ‘ . pelipis Kuro berdarah. Kuro sudah tak menghiraukn lagi keadaan dirinya.

WARGA DESA :
Cepaat jalan !!

Kuro dengan tegarnya berusaha tak merasakan sakit. Ia terus berusaha berjalan dengan terseok.

INTER CUT Pada Kunti yang diarak Pak Daim bersama warga desa, berjalan ke arah Kuro.

Beberapa saat Kuro dan Kunti bertemu pandang sambil meneteskan air mata masing – masing.

KURO :
Kuntii … !!

KUNTI :
Kang Kuroo .. !!

Kunti dan Kuro berangkulan dalam nasib yang sama.

WARGA DESA :
Saudara – saudara, kedua sampah ini telah mengotori desa kita. mereka
harus pergi dari desa ini, sekarang juga !!

Seketika terdengar teriakan ‘Usiir ‘ ‘ Lempar ke Sungai ‘ bergemuruh dari warga desa.

CUT TO

16. EXT. RUMAH KURO. MALAM
Establishing Shot

Rumah Kuro yang baru selesai dibangun, terbilang mentereng dalam ukuran rumah warga desa lainnya.

CUT TO

16A. INT. RUMAH KURO. MALAM
Cast : Nenek wangi, Kunti, Kuro

Di kamar tempat tidur, Kunti perutnya diperiksa nenek wangi, seorang dukun beranak. Setelah sekian lama, Nenek wangi geleng-geleng kepala.

NENEK WANGI :
Kamu tidak ada harapan untuk memiliki seorang anak.

KUNTI :
Kenapa nek, bukankah karena sebuah harapan, saya bisa hidup seperti
sekarang ini ?

NENEK WANGI :
Ini soal anak, soal karunia Allaah …! Kalau nyonya mau punya anak,
yah bermohon saja pada Allah ! Tapi kalau menurut pendapat nenek
sebagai dukun beranak, kandungan nyonya mandul.

Intercut pada Kuro yang mendengarkan pembicaraan dari balik pintu kamar.
Seketika Kuro murung dan bersedih. Tapi kemudian tiba –tiba tersenyum.

CUT TO

17. EXT. SINGGASANA SILUMAN BUAYA BUNTUNG. MALAM
Cast : Kuro, Kunti, Siluman Buaya Buntung

Di atas singgasananya, buaya buntung tertawa sambil mengunyah daging mentah yang tersaji pada nampan lebar di hadapannya. Rahang atasnya terbuka lebar kearah Kuro.

BUAYA BUNTUNG :
Ooh ..jadi itu rupanya. Pantas kalian mengantarku daging segar sebanyak
ini. Meskipun sebenarnya, aku lebih suka daging bayi manusia.
Dagingnya empuk, enak, wangi dan berkhasiat.

KUNTI :
Junjunganku, bila pada saatnya kami pasti memberimu tumbal bayi.

BUAYA BUNTUNG :
Yah benar. Kalian selama ini selalu menepati janji. Akh.. baiklaah …
Sekarang dengarkan syaratnya !! Selama Kunti belum ada tanda – tanda
Hamil, kalian berdua dilarang saling bicara !! Itulah syaratnya bila kalian
ingin punya anak.

Kunti dan Kuro saling pandang, lalu sepertinya sepakat saling memalingkan wajah.

CUT TO

18. EXT. TERAS RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kuro, Buaya Buntung, Kunti

Kunti duduk di teras rumah dengan pakaian yang sangat minim.
Muncul Kuro dari dalam rumah, menoleh ke arah Kunti.
Saat Kuro menoleh ke arahnya, Kunti berusaha menarik perhatian suaminya. Namun gagal.

Kuro langsung pergi meninggalkan Kunti seorang diri. Kunti kesal dan masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu. ‘Blak ‘

INTERCUT Pada siluman buaya buntung yang tiba – tiba muncul dari dalam selokan depan rumah Kuro, sambil memandang ke arah perginya Kuro.

Siluman buaya buntung segera melata ke dalam pekarangan rumah Kuro, bergerak ke arah teras. Ketika sampai di teras, seketika wujudnya berubah dan menjelma menjadi kembaran Kuro. Sesaat siluman melemaskan otot- otot lehernya sambil menatap ke arah pintu rumah.

CUT TO

19. INT. KAMAR TIDUR RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kunti, Siluman buaya buntung

Kunti terlentang dan merentangkan kedua kaki dan tangannya, di atas tempat tidurnya dengan pakaian yang sangat minim. Lebih minim ketika ia di teras. Desah nafasnya terdengar, seirama dengan turun – naik sepasang payudaranya.

Tiba – tiba suara deriit… engsel pintu kamar terdengar. Masih tetap dalam keadaan terlentang, Kunti menoleh ke arah pintu kamar yang telah terbuka.

Kunti melihat Kuro berdiri di mulut pintu sambil menanggalkan pakaiannya. Kunti heran saat Kuro merobek kaos dalamnya sendiri. Dan Kunti tiba – tiba dikejutkan oleh tingkah aneh Kuro, ketika tangannya meraih, hendak meremas lampu pijar yang menyinari ruang kamarnya.

INTERCUT Pada seorang lelaki pejalan kaki yang melintas sambil menoleh ke arah
rumah Kuro. Matanya tertuju ke arah kamar Kuro.

Kamar tidur Kunti gelap seketika. Kunti tersenyum ketika Kuro merobek lapis minim busananya. Kunti tak pernah menyadari, Kuro dihadapannya adalah jelmaan siluman.

CUT TO

20. EXT. WARUNG REMANG-REMANG. MALAM
Cast ; Kuro, Lelaki, figuran

Kuro duduk tak acuh di sudut warung. Muncul seorang wanita penghibur, mendekatinya

WANITA :
Mas, kok melamun.

KURO :
( Terkejut ) Oh, iya iya. Saya lagi nunggu teman.

WANITA :
Nunggu teman apa temaan.. hi .. hi.. hi.. Maas.. saya temani yah.

KURO :
Hhmmm…..

Kuro menarik lengan wanita , tapi tiba – tiba muncul seorang lelaki yang mengenalinya.

LELAKI :
Aduh mas Kuro, enggak disangka bakal ketemu disini.

Kuro melepas lengan wanita dan menggeser duduknya. Lelaki duduk.

KURO :
Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa ke sini !

LELAKI :
Bukan begitu, mas Kuro jangan marah dulu. Begini maas …
Tadi waktu saya lewat, seperti melihat Mas ada di rumah !

KURO :
Yah mungkin saja. ( Tempo ) Tapi, tapi saya sejak tadi disini.

LELAKI :
Aah… mas Kuro ini aneh orangnya. Ngomong sendiri jawab sendiri.

Kuro tercenung, lalu menghela nafas dalam – dalam.

CUT TO

21. INT. KAMAR TIDUR RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kuro, Kunti

Dalam kamar tidurnya, Kuro baru saja selesai mandi dan hendak berpakaian. Tiba-tiba dari luar kamar, muncul Kunti dengan pakaian sangat minim.
Diluar dugaan, Kunti mendorong tubuh Kuro hingga ambruk terlentang di pembaringan.
‘ Trek’Lampu kamar tiba – tiba gelap.

Dalam bias temaram cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar, nampak sebuah Bh jatuh meluncur menimpa hidung Kuro.

INTERCUT Pada siluman buaya buntung yang menangkupkan kedua rahangnya
sambil merunduk dan menghilang ke dalam selokan depan rumah Kuro.

CUT TO

22. EXT. JALAN DESA / KEDAI KOPI BU ROM. SIANG
Cast : Kunti, Bu rom, Pak Daim, warga desa

Pak Daim menuang kopi panas pada tatakannya. Warga desa duduk santai sambil menggerogoti buah kedondong.

PAK DAIM :
Pak, sudah habis proyeknya ?

WARGA DESA :
Sudah beres, selesai.

PAK DAIM :
Berapa lama kerja di sana ?

INTER CUT pada Kunti yang berkerudung hitam, berjalan ke arah warung bu rom.

WARGA DESA :
Hampir setahun.

PAK DAIM :
Bangun rumah saja kok bisa setahun. Aneh.

WARGA DESA :
Di dalam rumah itu, dibuat kolam renang besaar… sekali.

Kunti membelok ke warung bu rom, sambil memandang ke arah buah-buahan.

KUNTI :
Buu… semua buah ini mau saya borong, boleh nggak ?

BU ROM :
Yah pasti boleh dong neeng…. !

Bu rom segera mengemas buah dalam satu kantong, lalu disodorkan pada Kunti.
Kunti menyodorkan sejumlah uang. Pak Daim dan warga desa memandang heran pada Kunti yang sulit dikenali wajahnya.

KUNTI :
Ini uangnya ambil saja semua.

Kunti langsung pergi dipandangi bu rom.

CUT TO

23. EXT. WARUNG REMANG-REMANG. MALAM
Cast : Kuro, Lelaki, figuran

Terdengar alunan irama dangdut di warung remang – remang. Ada beberapa orang duduk melingkari meja yang penuh minuman, bersama Kuro dan lelaki sahabat Kuro.
Saat ini Kuro sudah mabuk minuman.

KURO :
Hayo teman – teman, habiskan semua yang ada di tempat ini.
Hayo, mari ! Jangan khawatir, niih … Kuro orang terkaya ha .. ha .. ha …

Seketika semua tertawa, mentertawakan tingkah Kuro yang lucu.

LELAKI :
Boos… sebenarnya ada apa sih, enggak biasanya !?

Kuro keluarkan segepok uang dan meletakannya di atas meja.

KURO :
Nih, kalian boleh habiskan. Aku ingin kalian bersenang-senang sampai
pagi.

Semua memandang terbelalak ke arah uang di atas meja.
KURO :
Aku ingin kalian semuaa.. ikut bergembira. Karena tidak lama lagi,
aku akan punya anak. Ha ..ha .. ha .. Aku tidak sia – sia selama ini hiduup.
ha… ha… anakku akan mewarisi semua harta kekayaankuu… ha ha ha…!

LELAKI :
Boos.. boos…anakmu yang manaa.. ?

KURO :
Sabaar… kawaan … saat ini dia masih dalam kandungan. Tidak lama lagi,
dia muncul sebagai lelaki yang gagah dan tampan ha .. ha .. ha …

Semua ikut tertawa sekedar menghibur bos yang mentraktirnya.

LELAKI :
Anak lelakimu yang gagah itu siapa namanya booos… ?

KURO :
Ooh … kalian mau tahu ? Dengar dan ingat ! KUTIJO !!

Saat ini tanpa dikomando, semua tertawa, mentertawakan namanya yang lucu.

INTERCUT TO

24. INT. KOLAM RENANG RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kunti, Siluman Buaya Buntung.

Siluman Buaya Buntung berada di tepi kolam renang pribadi di dalam rumah Kuro, khusus menemui Kunti yang dalam keadaan hamil tua dan hampir melahirkan.

BUAYA BUNTUNG :
Katakan pada suamimu Kuro, jangan hambur – hamburkan uangku.

KUNTI :
Hamba tidak tahu apa yang dilakukan kang Kuro.

BUAYA BUNTUNG :
Kunti, aku tahu bayi dalam kandunganmu akan segera lahir.
Sekarang cepatlah kau pergi ke tepi sungai !

KUNTI :
Maksudnya … ?

BUAYA BUNTUNG :
Jangan banyak tanya, bila anakmu ingin selamat !

Buaya Buntung seketika sirna dari pandangan Kunti.
Kunti merasakan sakit umumnya wanita yang akan melahirkan. Ia bergegas keluar.

INTERCUT TO

25. EXT. TANGGUL SUNGAI. MENJELANG PAGI
Cast : Kunti, Kuro

Kuro jalan sempoyongan akibat mabuk minuman, menyusuri tanggul sungai.
Beberapa saat berhenti dan menghadap ke arah desa.

KURO :
Kalian orang – orang desa yang sombong, aku belum puas sebelum
melenyapkan kaliaaan…semuaa….! Ha .. ha.. ha … ha …
Kalian semua akan kupersembahkan pada junjungankuu… ha..ha..ha..

INTERCUT pada Kunti yang berjalan kesakitan ke arah Kuro.
Kuro menoleh ke arah Kunti.

KURO : ( Cont’D )
Kunti, kenapa kamu datang kemari, ada apa kuun…?

KUNTI :
Aku mau mlahirkan, kaang … !

KURO :
Apa ?! Oooh… anakku,… Eh, tapii… kenapa datang kemari ?!
Seharusnya di rumah sakit bersalin kuun….hayo aku antar !!

KUNTI :
Tidak kang. Ini perintah junjungan kita. Aku harus ke tepi sungai kaang…

KURO :
Apa, perintah junjungan ?! Aneh !

Kunti terus berjalan menuruni bantaran, menuju tepi sungai. Kuro berusaha mengiringi di sisinya, dalam keadaan mabuk.

Tiba – tiba Kunti merasakan sakit yang amat sangat sehingga ia tak dapat meneruskan perjalanan. Kunti berbaring di bantaran sungai. Kuro salah tingkah dan serba salah.

KUNTI :
Aduuh…aduuh… kaang… bantuu.. kaang … duuh….

Kunti dalam kondisi detik – detik akan melahirkan.

KURO :
Iya iya iya aduh, ee.. ( Berlari Ke Tepi Sungai )
Junjungan kamii… bantulah istriku agar mudah melahirkaan….!!

Seketika dari dalam sungai, melesat seberkas cahaya dan langsung masuk ke dalam tubuh Kunti.

‘Aaaw….’ Kunti menjerit sekeras – kerasnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya.

Dan tiba – tiba terdengar‘ Oaa.. oaa.. oaaa.. oaa..’ suara bayi mengejutkan Kuro, juga Kunti.

Beberapa saat Kunti mengatur nafas. Wajahnya berubah ceria. Sambil tersenyum ia menoleh ke arah bayinya yang masih merah, menggeletak di ujung kakinya, bangkit bermaksud hendak meraih. Dari tepi sungai Kuro menoleh dengan wajah berbunga-bunga.

KUNTI :
Aaaaw … tidaaak …. Tidaaak … aaa .. a…a…( Pinsan )

Kuro terkejut melihat Kunti pinsan. Dan lebih terkejut lagi saat melihat bayinya yang ternyata berwajah sangat menakutkan.

Wajah bayi ini memanjang hampir menyerupai wajah seekor buaya, dengan hidungnya yang hampir tak nampak. Giginya telah tumbuh dan runcing berderet. Di penghujung deretan gigi bagian belakang, dua pasang gigi bertemu dan bersilangan, melengkung ke arah dalam rongga mulut. Sementara sepasang kakinya buntung sebatas lutut.

Kuro terperanjat, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

KURO :
Ha, beginikah anakku yang selama ini kuidam- idamkan ?!
Kubangga – banggakan !? Aaakh….Tidaak… tidaak …!!

Kuro masih memandangi bayinya. Pikirannya menerawang jauh kebelakang.

FLASH BACK

26. EXT. TERAS RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kunti, Kuro, Buaya Buntung

di tengah malam, Kuro berdiri di seberang jalan rumahnya, memandang ke arah pintu rumah.

Pintu rumah Kuro terbuka, lalu dari dalam rumahnya siluman buaya buntung keluar melata menuju selokan depan rumah. Siluman masuk ke selokan dan sekejap menghilang.

Tak lama berselang, Kunti muncul dan berdiri sesaat di mulut pintu sambil membetulkan kain tipis penutup tubuhnya. Juga keadaan rambutnya kusut masai.
Selanjutnya Kunti menutup pintu rumah.

Kuro masih berdiri mematung di seberang jalan, dengan sorot mata penuh amarah.

CUT TO

27. EXT. WARUNG REMANG – REMANG. MALAM
Cast : Lelaki, Kuro

Hangar – bingar alunan musik dangdut, ditingkah suara cekikikan wanita – wanita centil dan sesekali suara tawa serak dan parau seorang lelaki.

Kuro duduk menyudut di kursi yang paling ujung pada warung remang – remang.
Lelaki teman mabuknya datang dan duduk di sebelahnya.

LELAKI :
Roo.. , masalah di rumah lupakan sajaa…! Kau kan banyak uang,
tinggal pilih yang mana kau suka, beres kan !?

KURO :
Kamu enggak bakalan ngerti persoalanku.

LELAKI :
Mana mungkin aku bisa tahu. Kau selalu tutup mulut, siapa lelaki yang
sering ada di kamarmu itu !

KURO :
Ini urusanku. Kau diam saja.

LELAKI :
Aaahk …. dasar bodoh kau. Mau di…

Kuro langsung bangkit dan memukul lelaki. ‘Dhug’

KURO :
Awas, sekali lagi berani kurang ajar, celaka nanti !

Lelaki meraba hidungnya. Ia terkejut darah mengucur dari hidung.

Back to SCENE 25.

Terpancar pada wajah Kuro, dendam dan amarah ke arah bayinya.

KURO :
Kini ku yakin kau bukan anakku. Kau pasti anak siluman buntung yang
lancang meniduri istriku. Aku tidak sudi melihatmu hidup di dunia ini.
kau harus mati sekarang juga.

Kuro menyeret kaki buntung bayi, menjauh dari Kunti. Bayi menangis menjerit-jerit.
Jeritan bayi tak dihiraukan, malah Kuro mencabut pisau dari balik bajunya.

KURO : ( Cont’D )
Aku terlanjur menamaimu Kutijo. Kini bawalah nama itu ke nerakaa…!

Beberapa saat pisau terangkat ke atas. Tiba – tiba terdengar keras desah nafas Kuro menahan gejolak. Kuro telah pejamkan mata, tapi belum juga berani menghunjam pisau ke arah bayinya.

Di atas permukaan air, muncul siluman buaya buntung. Duduk di atas jamur luapan air sungai sambil tangannya mengarahkan ke bayi yang masih terus menangis.
Seketika muncul sebuah gelombang besar cahaya, menjalar hingga menyelimuti kutijo.

Bayi yang masih terus menangis, tiba – tiba melayang terbang ke pangkuan siluman buaya buntung, tersedot gelombang besar cahaya.

BUAYA BUTUNG :
Dasar bangsa manusia, tidak pernah berterima kasih bila ditolong !

Sekejap buaya buntung melesat dan berdiri di hadapan Kuro.
Kuro terkejut bukan alang kepalang Wajahnya pucat pasi. Beberapa saat detak jantungnya terhenti. Kuro hampir pingsan saat melihat siluman yang tiba – tiba telah berdiri di hadapannya sambil membuka lebar – lebar kedua rahang dan langsung mencaplok dirinya.

Kuro tak sempat berteriak. Kepala hingga rongga dadanya masuk terbenam ke dalam rahang siluman buaya buntung.

CUT TO

28. EXT. TEPI SUNGAI. MENJELANG PAGI
Cast : Kunti, Nenek Wangi

Nenek wangi hendak mencuci pakaian di sungai. Saat menuruni bantaran sungai, ia terkejut melihat Kunti menggeletak di tepi sungai. Ketika Nenek wangi hendak membangunkan Kunti, ia terkejut melihat darah berlumuran pasca kelahiran bayi.

Nenek wangi segera meraba denyut nadi Kunti. Beberapa saat kemudian, nenek wangi tersenyum.

INTERCUT : Dari arah tanggul, muncul Bu Rom yang juga hendak mencuci pakaian
di sungai, berjalan ke arah nenek wangi. Matanya memandang ke arah
Kunti.

BU ROM ;
( Takut ) Nek wangi, itu mayat perempuan siapa ?

NENEK WANGI :
Masih hidup Bu room… jangan takut. Cepat kemari bantu nenek !!.

Bu rom terkejut setelah mengenali Kunti.

BU ROM :
Haa… nek, saya sepertinya pernah melihat wanita ini, tapi dimana yah ?

NENEK WANGI :
Sudaah… jangan banyak tanya. Hayo kita angkat. Nenek sudah tahu
rumahnya.

Bu rom dan nenek wangi berusaha mengangkat tubuh Kunti.

CUT TO

29. EXT. SINGGASANA SILUMAN BUAYA BUNTUNG. MALAM
Cast : Siluman buaya buntung, kutijo

Di bawah singgsana siluman buaya buntung, menggeletak kepala Kuro. Di sebelah potongan kepala Kuro, kutijo sambil tengkureb menggerogoti pangkal paha bangkai Kuro.

Dari atas singgasananya, siluman buaya buntung membuka lebar – lebar rahangnya, lalu memasukan jantung dan hati bangkai Kuro.

Selanjutnya terdengar lengkingan panjang suara siluman yang menyerupai ringkikan kuda.

Dari belakang singgasana siluman, muncul seekor buaya putih melahap potongan kepala Kuro.

BUAYA BUNTUNG :
Kurang ajar, berani mencuri milik anakku. Aahrrr…!!

Api menyembur dari rahang Siluman karena marah atas kehadiran buaya putih yang telah mencaplok kepala Kuro

Buaya putih segera masuk kembali ke sarangnya.

CUT TO

30. EXT. TERAS RUMAH KURO. SIANG
Cast : Kunti, Nenek Wangi, Bu Rom

Di teras rumahnya, Kunti membagi – bagikan sejumlah uang pada nenek wangi dan bu rom. Sesaat nenek wangi dan bu rom terlongo – longo melihat uang di tangannya.

KUNTI :
Maaf jangan tersinggung, hanya ini yang dapat saya lakukan, karena saya
telah ditolong kalian.

BU ROM :
Aduuh.. terima kasiih… saya enggak ngimpii.. dapat rejeki begini !

NENEK WANGI :
Aduuuh …Nyonya baik sekalii.. Saya doakan semoga dimurahkan
rejekiNyaa… !! Dipanjangkan umuur…!! Dan…

KUNTI :
Sudaah.. sudah neek…sudah cukup doa nenek buat saya. Tapi sebelum
kalian pergi, saya pesan, tolong jangan bilang pada siapapun kejadian
tadi pagi.

Nenek Wangi dan Bu Rom heran, sesaat saling pandang.

CUT TO

31. EXT. KEDAI KOPI BU ROM. MALAM
Cast : seorang warga desa, Sukri, Ujo

Warung bu rom tutup.
Dari arah jalan, seorang warga desa membelok dan duduk di bangku kosong warung bu rom. Ia bersandar di warung dan memandang bintang dilangit.

WARGA DESA :
Yaah… gusti pangeraan…kapaan… bisa seperti merekaa. !?
Aaah… nasiib… nasib. Aaakh…. Dasaar nasib.

Tak disadarinya, muncul dari selokan siluman buaya buntung yang melata ke arahnya.

WARGA DESA : ( Cont’D)
Rasanya lebih baik mati saja kalau begini teruus … aakhh….. !
Tapii… apa barangkali karena kualat telah mengusir Kuro dan Kunti.

Kini siluman buaya buntung telah membuka rahang yang di arahkan ke warga desa.

WARGA DESA :
( Tersentak ) Eh, kok mendadak bau amis. Di mana sih !

Warga desa mencari arah bau amis, menoleh ke kolong bangkunya. Bersamaan dengan ini, rahang siluman buaya yang sudah terbuka lebar, langsung mencaplok bulat – bulat bagian kepala warga desa.

Siluman buaya buntung segera melata, berjalan mundur, menyeret – nyeret tubuh warga desa masuk ke selokan kering.

INTERCUT Pada dua peronda Sukri dan Ujo yang melihat ke arah selokan, dan
langsung berlari mengejar.

SUKRI :
Jo cepat kejar siluman itu !!

Sambil mengejar, Ujo dan Sukri berteriak keras – keras.

UJO :
Silumaan ….., Silumaan …… !!

SUKRI :
Hooooii… banguuun …. Adaa ….. silumaan … !!

Siluman buaya buntung masih terus menyeret – nyeret tubuh korban karena tak ada genangan air dalam selokan yang dilaluinya.

Saat ini warga desa berbondong mendatangi Sukri dan Ujo

Siluman Buaya Buntung terpaksa melepas mangsanya, lalu kabur melata dengan gesit di kegelapan malam.

PAK DAIM :
Sukri, Ujo. Mana silumannya ?

UJO :
Tadi lari di selokan ini, hayo menyebar, cari rame – rame !!

Seluruh warga desa menyusuri selokan. Tiba – tiba Sukri menjerit.

SUKRI :
Aaaww…… !!

Pak Daim berlari mendatangi Sukri.

PAK DAIM :
Kenapa kamu krii .. !!

Sukri menunjuk-nunjuk ke arah selokan dihadapannya.
Seluruh warga desa serempak menoleh ke arah yang di tunjuk Sukri. ‘ Hiiyy… !!’

PAK DAIM :
Biadaab… !

UJO :
Laknat !!

Tubuh korban menggeletak dalam selokan kering. Kepala dan wajahnya berlumuran darah, robek-robek dan terkelupas kulitnya.

CUT TO

32. EXT. GERBANG HALAMAN MASJID. MENJELANG PAGI
Cast : Kyai Damar, Ismanu

Kyai Damar mengusap bagian atas kepala Ismanu saat bersujud hendak pamit meninggalkan pesantren.

KYAI DAMAR :
Ismanu, bangkitlah.

Ismanu berdiri

KYAI DAMAR : ( Cont’D)
Siluman masih bergentayangan dan warga desa tak berdaya
menghadapinya. Nah, pergilah ke desa yang tertimpa bencana itu.
Semoga Allah subhanallahuwata’ala melindingi mu.

ISMANU :
Baik Kyai. Saya permisi.

KYAI DAMAR :
Sebentar, aku pesan untuk yang terkhir kali. Selama kau menjalankan
Tugas ini, jangan sampai terjebak segala godaan duniawi. Ingat itu !

ISMANU :
Akan selalu diingat kyai.

Kyai DAMAR :
Hhhmmm ….!

Kyai damar memberi tanda dengan tangannya pad ismanu agar segera pergi.

Dengan mengucap BASMALLAH, Ismanu segera pergi dengan membawa sekedar pakaian salinan dan alat shalat dalam buntelan kain putih.

Kyai Damar menatap jauh menembus cakrawala, lalu mendesah sambil jemari tangannya melanjutkan wirid.

CUT TO

33. EXT. JALAN DESA / PEMAKAMAN UMUM. SIANG
Cast : KUNTI, PAK GANI, UJO, SUKRI,WARGA DESA

Iringan jenazah dari arah jalan desa membelok ke lokasi pemakaman umum.
Di depan usungan, pak gani memimpin. Dibagian belakang, ada Ujo dan Sukri serta warga desa lainnya.

UJO :
Kri, dapatkah mengingat seperti apa tampang siluman itu kri ?

SUKRI :
Maksudmu apa, aku tidak mengerti.

UJO :
Kalau kau bisa mengingat, nanti kita gambar tampangnya biar
disebar keseluruh desa.

SUKRI :
Aakh.. seperti polisi saja kamu.

UJO :
Demi warga desa kri, demii….!!

SUKRI :
Aaakhh… sudah. Apa-apa demi warga desa. Iya kalau warga desa mau
mengerti. Ronda seumur – umur, mau ngopi saja ngutang
di warung bu rom.

INTERCUT Pada Kunti yang berkerudung hitam menutupi hampir seluruh wajahnya, menatap tajam ke arah jenazah yang kini mulai diturunkan.

Flash back

34. EXT. BANTARAN SUNGAI. SIANG
Cast : Kunti, Kuro, Warga desa

Kunti dan Kuro yang dihalau warga desa, berjalan terseok dan terpincang – pincang.
Seorang warga desa yang selalu menghasut massa, tak henti – hentinya melempari kunti dan kuro dengan sampah dan kotoran yang ada disekitar bantaran sungai.

WARG DESA :
Saudara-saudara, orang ini telah terbukti hendak membunuh seorang bayi.
Dan juga terbukti telah meracuni ternak – ternak kita selama ini.

Warga desa ikut melempari kunti dan kuro dengan sampah dan tanah kering. Kunti dan kuro tak diberi kesempatan membela diri.

SUKRI :
Bakar saja !

WARGA DESA :
Jangan. Cukup kita hukum dia dengan meninggalkn desa ini dengan
Menyebrangi sungai hingga ke tepi seberang. Dia tidak boleh lagi kembali
Ke desa kita untuk selamanyaa… !!

SEREMPAK :
Setujuuu……!!!

KUNTI :
( Memelas ) Paak… kami tak dapat berenaang…. Jangaan hukum
kami seperti ituu … sayaa … mohoon paak …. !!

WARGA DESA :
Ha… ha.. ha.. ha… saudara – saudara, lihat dia mengemis minta
dikasihani. Padahal dia jelas – jelas hendak membunuh seorang bayii.. !

kembali warga desa melempari kunti dan kuro dengan tanh, kotoran dan sampah.

FLASH BACK BERAKHIR

CUT TO

35. EXT. JALAN DESA / KEDAI KOPI. SIANG
Cast : Ismanu, Bu Rom, Kunti

Ismanu tengah meminum air putih. Bu rom dari dalam warung, diam - diam meneliti keadaan Ismanu.

Ismanu menaruh gelas kosong di atas meja warung, lalu tangannya mengusap bibir.

ISMANU :
Alhamdulillaah… aahk …

BU ROM :
Mas, sepertinya si mas bukan warga sini.

ISMANU :
Benar bu, saya seorang musyafir. Diutus kyai guru untuk memperbaiki
umat, agar mereka selalu berada di jalan yang benar.

BU ROM :
Mas, warga di desa ini sedang dilanda bencana. Hati – hati mas. Saya
Khawatir si mas menjadi korban siluman.

INTERCUT Pada kunti yang berjalan ke arah warung Bu rom. Tatapan matanya
tertuju pada ismanu, yang saat ini ismanu telah melihat kemunculannya.

ISMANU :
Ha, siluman, Maksudnya siluman apa bu ?

BU ROM :
Entah yah. Soalnya saya sendiri belum pernah melihatnya.
Apa benar apa tidak, yaah.. kurang tahu.

Kunti membelok ke warung bu rom, sambil melirik dan tersenyum pada Ismanu.
Ismanu membalas senyuman kunti. Bu rom memperhatikan lirikan dan senyuman keduanya.

KUNTI :
Bu, apa kabar ?

Bu rom terkejut disapa kunti. Tapi segera ia tersadar dan mengenali kunti. Berdua bersalaman.

BU ROM :
Eeh .. nyonya. Sampe pangling saya. ( Tempo )
Dari mana mau kemana nya ?

KUNTI :
Biasa iseng jalan – jalan. Bosan di rumah terus. Maklum hidup sendiri.
Sepii …rasanya bu. Hi .. hi .. hi .. ( Tertawa )

Ismanu diam – diam mencuri pandang ke arah wajah kunti.
Ismanu gelagapan saat kunti menoleh ke arahnya, memergoki curi pandangnya.
Semua ini tak luput dari perhatian bu rom.

BU ROM :
Kheemm … ! ( De hem )

KUNTI :
Buu.. main dong ke rumaah … !

BU ROM :
Maluu… takut nyonya terganggu.

KUNTI :
Kenapa harus malu, saya malah senang dikunjungi. Sudah yah bu
saya permisi dulu.

Kunti sambil pergi, kembali tersenyum pada ismanu.
Ismanu membalas dengan senyuman penuh arti.

BU ROM :
Maas… mas !

Ismanu gelagapan, lalu merapikan posisi duduknya yang condong ke arah kunti.

ISMANU :
Astaghfirullahalaziim…!

BU ROM :
Katanya mau memperbaiki umaat… kok malah ngelirik jandaa…!

CUT TO

36. EXT. PEMAKAMAN UMUM . MALAM
Cast : Siluman Buaya Buntung. Warga desa

Lobang kuburan warga desa terbongkar tak karuan. Papan penutup liang lahat berserakan. Sebahagian patah dan remuk. Diantara serakan papan dan tanah kuburan, kain kafan nampak kusut dan terbelit diantaranya. Kondisi kain kafan robek dan kotor

Tak jauh dari lobang kuburan yang terbongkar ini, Siluman Buaya Buntung dengan rahngnya, tengah menyeret- nyeret jasad warga desa yang kedua belah mtanya masih melekat kapasnya.

Jasad warga desa masih terus diseret menuju selokan yang ada di sisi jalan desa, dan akhirnya siluman berhasil masuk ke dalam selokan yang berair. Sekejap Siluman sirna bersama jasad warga desa .

CUT TO

37. EXT. SINGGASANA SILUMAN BUAYA BUNTUNG. MALAM
Cast : Siluman Buaya Buntung, Kutijo, warga desa

Kutijo yang berkaki buntung sebatas lutut, tengah melatih semburan api dari rahangnya yang menyerupai raut wajah manusia.

Muncul dari belakang singgasana, siluman buaya buntung yang sibuk menyeret tubuh warga desa.

BUAYA BUNTUNG :
Kutijo, cepat bantu bapakmu !

Kutijo segera menyambut kedatangan buaya buntung. Tetapi bukan membantu menyeret, malah langsung menggigit pangkal lengan warga desa.

Buaya Buntung kesal dan langsung meninggalkan jasad warga desa yang belum sepenuhnya nampak.

KUTIJO :
Groaauk… groaauk….groaauk…

BUAYA BUNTUNG :
Kutijo, hentikan makanmu. Aku ingin bicara sebentar.

Kutijo melempar makanan yang belum sempat dimakan, ke arah jasad warga desa.

KUTIJO :
Mau bicara apa pak ?

BUAYA BUNTUNG :
Aku telah melatihmu dengan berbagai ilmu siluman, biarpun kau tidak
sepenuhnya seperti bangsa siluman seperti diriku. Karena kau separuhnya
adalah bangsa manusia.

KUTIJO :
Pak, aku ingin tahu seperti apa bangsa manusia, boleh kan paak .. ?

BUAYA BUNTUNG :
Tentu saja boleh. Justru sekaranglah saat yang tepat kamu mencoba hidup
menyatu dengan merekaa… !!

KUTIJO :
Ha, benar nih ?

BUAYA BUNTUNG :
( Marah ) Kutijo ! Apa kamu pikir aku sebagai raja siluman penguasa
Seluruh sungai di muka bumi ini pernah berbohong ?
Tidak kutijo anakku. Hanya bangsa manusia saja yang selalu berbohong !
Camkan ini baik – baik !

KUTIJO :
Ya pak !

BUAYA BUNTUNG :
Heemmm … hhgroooaakh….!!

CUT TO

38. EXT. EMPANG KECIL/ MUSHALLAH. SIANG
Cast : Kutijo, Tata, Anak Desa

Tata bersama teman sebaya di desanya, mandi dan bermain di empang kecil pekarangan mushallah. Kondisi tubuh para bocah, basah kuyup.

ANAK DESA :
Hooi… teman – temaan… lihat nih aku mau terjun !

Para bocah menoleh dan memperhatikan Anak desa.

INTERCUT : Kutijo muncul dari bawah permukaan air. Ia langsung menepi dan
bersandar di sisi empang, sambil memperhatikan para bocah.

TATA :
Alaah … paling di pinggir terjunnya.

Anak desa tak menghiraukan perkataan tata. Ia langsung lompat. ‘Byurrr..! ‘
Tata panas. Ia segera ambil ancang – ancang.

ANAK DESA :
Hayo coba bisa enggak lebih jauh dari aku !

Tata langsung lompat sekuat tenaganya. Tubuhnya meluncur ke tengah empang.
‘ Byuurr … ‘

‘ HOREE ‘ anak – anak desa serempak bersorak.

Setelah bersorak, para bocah saling pandang karena ternyata Tata belum muncul dari dalam air.

ANAK DESA :
Taa…. Tataa… Taataaa…… !

Selanjutnya para bocah ramai – ramai berteriak ‘ taataa….’

Kutijo yang sejak tadi hanya memperhatikan, segera meluncur ke tengah empang dengan ringannya.

Para bocah terkejut melihat keadaan kutijo yang aneh dan ganjil.

Sesaat kemudian Kutijo telah menggendong dengan punggungnya tubuh Tata.
Tata tertolong. Ia batuk – batuk . Kutijo segera meletakn tubuh tata di tepi empang.

TATA :
Aakh…. Aaah… hhm..! ( Terkejut Lihat Kutijo )
Eeh .. kamu yang tadi nolong saya yah ? Terima kasih yaah.. !

KUTIJO :
Aah … tidak apa – apa. Lain kali hati – hati yaah… !

ANAK DESA :
Namamu siapa ?

KUTIJO :
Namakuu… Kutijo. Aku ingin bermain dengan kalian. Boleh kaan …?

TATA :
Tentu saja kutijo. Kamu kan orangnya baiik… suka menolong orang.
Iya kan teman – temaan… ?!

‘ Yaa….’ Serempak para bocah menyambut kutijo.

ANAK DESA :
Sekarang kita ke lapangan, main bola saja yaah… !?

‘ Beres boos.. ‘ kembali para bocah berteriak. Anak desa yang dipanggil bos, langsung memimpin perjalnan menuju lapangan.

INTERCUT Pada Ismanu yang keluar dari dalam mushallah sambil menatap tajam
Ke arah Kutijo yang berwajah aneh dan ganjil.

ISMANU :
Apa ini yang dimaksud makhluk silumannya ?. Tapii… masa iya ?!

CUT TO

39. EXT. KEDAI BU ROM. SIANG
Cast : Bu Rom, Kunti, Ismanu

Kunti memborong buah – buahan dagangan bu rom. Semua buah dalam ukuran yang tak dapat dibawa sendiri oleh kunti.

KUNTI :
Aduuh… gimana yah bawanya. Berat sekali buu.. !.

BU ROM :
Nyonya, nyonya mestinya punya pendamping. Biar enggak repot
kalau begini.

INTERCUT : Pada Ismanu yang berjalan sambil memandang ke arah kedai bu rom.
matanya menatap tajam ke arah kunti yang tersenyum.

KUNTI :
Bu rom, seandainya ada yang mau bantu saya, aduuh.. seneeng.. rasanya !

Ismanu telah berdiri di depan kedai bu rom. Ia kikuk dan salah tingkah.

BU ROM :
Sudaah… enggak usah malu-malu. Terus terang saja minta tolong, pasti
ditolong. Mas Ismanu kan orangnya baik.

ISMANU :
Ada apa bu Kunti ?

Kunti tersenyum. Ismanu membalas senyuman.
Jemari tangan Ismanu menyentuh jemari tangan Kunti.
Tangan kunti meremas jemari tangan Ismanu.

KUNTI :
Mas, antar saya ke rumah doong… !

Bu Rom mendehem melihat Ismanu dan kunti saling berdekatan.

CUT TO

40. EXT. PEMAKAMAN UMUM. MENJELANG MAGHRIB
Cast : Sukri, Bu Gani

Di pemakaman umum, Bu Gani hendak nyekar ke makam suaminya, ditemani Sukri.
Belum sempat melaksanakan niatnya, berdua terperanjat melihat sebuah makam lain di dekat makam suaminya dalam keadaan rusak dan terbuka. Idem sc. 36

BU GANI :
Aaaaaaaaaw….. !!

SUKRI :
Biadaab…. Pasti ini perbuatan siluman itu lagi !!

BU GANI :
Kriii… sukrii.. cepat kita pergi dari sinii… Ibu takut krii… !!

SUKRI :
Yah bu gani, kita harus segera memberitahukan semua warga desa.

Sukri dan Bu gani setengah berlari meninggalkan pemakaman umum.

CUT TO

41. EXT. PEMAKAMAN UMUM . MALAM
Cast : Sukri, Ujo, Pak Daim, warga desa

Disekitar lokasi pemakaman umum, warga desa menyebar. Masing – masing membentuk kelompok kecil dengan membawa berbagai alat pemukul dan senjata.

PAK DAIM :
Maaf saudara – saudara. Sebaiknya kelompok ronda ini dibagi dua.
Satu kelompok tetap berjaga disini, dan satunya lagi harus berjaga
di pos ronda yang kita miliki bersama. Bagaimana ? Setuju !?

Sesaat terdengar teriakan ‘ SETUJU’ ‘YA’ ‘ BENAR PAK ‘ dari para peronda.

PAK DAIM :
Kalau setuju, langsung saja berangkat !

Seketika sebahagian peronda meninggalkan lokasi pemakaman umum dipimpin Ujo sambil mengacungkan masing – masing senjata ke atas.‘ HAJAR SILUMAN ‘ ‘CINCAANG…’ dan BAKAAR…’

INTERCUT TO

42. EXT. POS RONDA . MALAM
Cast : Warga Desa, Ujo

Pos ronda nampak sepi. Tiba – tiba terdengar yel yel ‘ Hajar Silumaan..’ dan Cincaang…’ juga ‘ Bakaar …’ menggema seketika.

Muncul para peronda dipimpin Ujo memenuhi areal pos ronda.

WARGA DESA :
Ujo, apa tidak sebaiknya kita keliling kampung saja ?.

UJO :
Tidak perlu. Semua warga desa sudah saya peringatkan, jangan ada yang
keluar dari rumah masing – masing.

CUT TO

43. EXT. KANTOR K. U. A. SIANG
Cast : Kunti, Ismanu, Bu Rom

Kantor KUA nampak lengang dan sepi.
Muncul dari dalam kantor KUA Ismanu bergandengan dengan Kunti. Dibelakangnya mengikuti Bu Rom dan Nenek Wangi.

Ismanu dan Kunti berjalan bergandengan tangan menuju gerbang pekarangan KUA.
Nenek Wangi dan Bu Rom masih tetap di belakang mengikutinya sambil tersenyum.

KUNTI :
Mas Is, mulai saat ini mas enggak usah tinggal di desa itu lagi.
Temani saya saja di rumah !

ISMANU :
Kunti, aku ini sekarang suamimu. Sudah tentu aku wajib melindungimu.

Kunti tersenyum bahagia.

CUT TO

44. EXT. LAPANGAN BOLA. SIANG
Cast : Ismanu, Anak Desa, Kutijo

Anak – anak desa main bola sepak menggunakan bola plastic. Lapangan bola ini bukanlah ukuran lapangan bola yang sebenarnya. ( Lebih Kecil )

Kutijo berdiri di bawah mistar gawang, sebagai penjaga gawang.
Kedua kakinya yang hanya setinggi lutut, ia nampak kecil dibanding rekan-rekannya.

Saat ini bola menggelinding ke tengah lapangan. Para bocah segera mengerumuni bola. Tata berhasil menendang bola ke arah gawang Kutijo.

Bola melambung tinggi, melampaui mistar gawang yang dijaga Kutijo.
Saat bola yang melambung tinggi di atas mistar gawang hampir melewatinya, Kutijo mampu melompat dan menangkapnya. Setelah menangkap bola, ia meluncur turun dengan mulus, kembali berdiri kokoh di atas kedua kakinya yang buntung.

Seketika terdengar sorak sorai dari para bocah, ‘ Horee… hebaat .. KUTIJOO.. ‘
Sorak sorai terdengar berulang – ulang hingga menggema ke sekitar desa.

INTERCUT TO

45. EXT. TERAS RUMAH KURO. SIANG
Cast : Ismanu, Kunti

Saat ini gema teriakan para bocah “ HOREE.. HEBAAT.. KUTIJOO… “ terdengar jelas di teras rumah Kuro.

Ismanu dan Kunti saling pandang.

ISMANU :
Ha, kutijo ? Bocah aneh itu !

KUNTI :
Kutijo.. kutijo siapa kang ?

ISMANU :
Seorang bocah aneh di desa ini. Mari kita lihat !

Ismanu dan kunti bergegas ke luar rumahnya dan berjalan menuju lapangan bola di samping rumahnya.

CUT TO

46. EXT. SUDUT LAPANGAN BOLA. SIANG
Cast : Kutijo, Anak Desa, Kunti, Ismanu

Para bocah tidak lagi bermain bola. Mereka kini meng elu – elukan Kutijo.
Kutijo mendemonstrasikan kehebatannya di hadapan para bocah. Ia kini kembali berdiri di bawah mistar gawang.

Saat ini telah berdatangan warga desa yang juga ingin melihat Kutijo.
Ismanu dan Kunti yang berdiri jauh di luar lapangan, berdecak kagum, tapi juga heran.

Tata melambungkan bola melampaui mistar gawang. Kutijo dengan ringannya melesat dan menangkap bola yang masih tinggi di atas mistar gawang , lalu meluncur turun dengan mulus, sambil mendekap bola.

‘ HOREE… ‘ kembali terdengar sorak para bocah.

ISMANU : ( VO )
Siluman yang dimaksud Kyai Damar, apakah bocah ini ?. Bingung aku.

KUNTI : ( VO )
Tidak salah lagi. Kutijo adalah anakku yang hilang bersama Kuro saat
kulahirkan.

Kunti menatap tajam ke arah kutijo. Dan saat ini Kutijo tiba-tiba menghadap ke arah Kunti. Dua sorot tatapan mata bertemu. Seketika terjadi keanehan pada diri Kunti. Ia tidak lagi melihat Kutijo sebagai wujud yang sebenarnya, tapi yang nampak dalam penglihatannya, adalah wujud Siluman Buaya Buntung.

ISMANU :
Kuntii.. Kuun… !

Beberapa saat Kunti menggeragap. Ia berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Selanjutnya mendesah dan menghela nafas dalam – dalam.

KUNTI :
Mas Is, kepalaku pening. Mari kita pulang saja.

ISMANU :
Kenapa kamu kuun..? Takut yah melihat bocah yang mirip siluman itu ?

Sesaat terpancar kemarahan di wajah Kunti.

KUNTI :
Aaakh… jangan sembarangan bicara maas.. !!

ISMANU :
Maaf, maafkan aku Kun !

Kunti menepis tangan Ismanu dengan kasar. Ismanu terkejut, berdiri terpaku.

KUNTI :
Biar aku pulang sendiri saja.

Kunti tanpa menoleh, terus berjalan tinggalkan Ismanu yang masih berdiri terpaku.
‘ HOREE’ Kembali terdengar sorak para bocah, mengalihkan Ismanu dari Kunti.

Ismanu kembali memperhatikan Kutijo.
Kali iniTata mencoba melakukan seperti apa yang dilakukan Kutijo. Bola di lambungkan oleh seorang anak desa melampaui ketinggian mistar gawang. Setelah ambil ancang – ancang, Tata meluncur ke atas hendak menangkap bola, namun ternyata akibatnya sangat fatal. Tata tak mampu berbuat seperti Kutijo. Tubuhnya terpelanting dan membentur tiang gawang. Darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.

Seketika terdengar ejekan seluruh warga desa dan para bocah ‘ PAYAAH…’
‘ LAGAK DOAANG… ‘ ‘NEKAAD’… dan ada juga suara tawa ‘HA .. HA.. HA.. menggema berulang – ulang.

‘ Huu.. Huu… Huuu… ‘ Tata menangis sambil menyingkir ke tepi lapangan, melewati Kutijo berada.

Kutijo mengendus bau anyir darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut Tata. Ia mengejar Tata dan menjilati darah segar yang melumuri wajah Tata. Tidak puas hanya lumuran darah, Kutijo menggigit hidung Tata hingga robek. Tata nangis bergulingan di lapangan sambil memegangi hidungnya.

TATA :
Adaauuh…..maaaak … adaauuh…. Adaauuh…sakiit…maaa….. !!!

Seketika seluruh warga desa dan para bocah juga Ismanu terperanjat melihat perbuatan Kutijo yang sangat mengerikan.

Tidak sampai disini saja. Tata yang menangis bergulingan, malah diterkam Kutijo dengan kedua rahangnya yang bergigi runcing dan tajam melengkung. Seketika Kutijo telah berubah menjadi siluman cilik yang mengerikan.
Tata menggelepar – gelepar meregang nyawa dalam cengkraman rahang Kutijo.

Sekejap warga desa dan para bocah kalang kabut dan bercerai berai, panik tak tahu apa yang harus diperbuat.

ISMANU :
Kurang ajar. Rupanya bocah inilah siluman yang sedang kucari !

Ismanu segera melompat ke tepi lapangan dan langsung menghantam Kutijo dengan satu tendangan keras. ‘ Bhhuggkh ‘ Kutijo terpental dan cengkramannya terlepas. Ia segera bangkit dan menoleh ke arah Ismanu.

KUTIJO :
Manusia lancang !

ISMANU :
Kali ini kau tak kan bisa lolos. Khhiy…

Ismanu keluarkan keris dalam keadaan sudah terhunus. Kutijo terperanjat. Ia mundur beberapa langkah. Tiba – tiba Kutijo membuka lebar – lebar rahangnya sambil tengadahkan ke atas. Ia keluarkan lengkingan panjang.

KUTIJO :
AAUURGGG…. AAUURRRGHH… AAUURRGHH… !!

Ismanu tertegun beberapa saat.

INTERCUT Pada Siluman Buaya Buntung yang muncul di tepi sungai.

Ismanu kembali melompat dan menerkam Kutijo dengan keris terhunus yang diarahkan pada ulu hatinya. Kutijo menyongsong serangan Ismanu dengan semburan api yang keluar dari rahangnya.

Ismanu mengelak dan membelokan serangannya ke tempat kosong, dan luput dari semburan api. Dan saat mendarat, langsung melompat dan menerkam Kutijo dari arah sampingnya dengan keris yang tetap di arahkan ke ulu hati Kutijo.
Kutijo lengah, terkaman keris Ismanu menembus ulu hati Kutijo.

KUTIJO :
Bapaaak … aaduuuh… sakiiit…. !!

Kutijo ambruk ke bumi sambil memegangi ulu hatinya.

ISMANU:
Saudara – saudara, inilah siluman yang telah membunuh keluarga kalian !
Sekarang puaskan dendam kalian . Hayoo… cepaat … !!

Seluruh warga desa serempak menghajar, memukuli tubuh Kutijo yang suda tak berdaya. Beberapa saat kemudian warga desa bubar dengan perasaan puas

INTERCUT Pada Kunti yang menitikan air mata dan memandang penuh dendam
pada Ismanu.

CUT TO

47. EXT. PANGGUNG GEMBIRA. MALAM
Cast : Warga Desa, Sukri, Bu Rom

Warga desa merayakan kemenangan karena menganggap Siluman telah dibinasakan Ismanu, dengan hiburan dangdut panggung gembira.
Warga desa berjoget ria dan bergembira, mengikuti goyang pinggul sang penyanyi. Di sudut panggung, Sukri merayu Bu Rom yang berdandan menor.

SUKRI :
Room….!

BU ROM :
Apa sih Baang…

SUKRI :
Jangan disini ngobrolnya

BU ROM :
Mau ngobrol dimana ?

SUKRI :
( Berbisik ) Disana, di belakang ! Hayo !!

Sukri menarik tangan Bu Rom ke belakang panggung.

PARALEL CUT

48. EXT. KAMAR TIDUR RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kunti, Ismanu, Buaya Buntung

Terdengar sayup – sayup alunan musik dangdut.
Dilantai kamar tidur, Ismanu duduk bersila sambil ngewirid.

Tiba – tiba pintu kamar tidur dibuka dari luar oleh Kunti. Lalu Kunti masuk dengan pakaian minim.

Kunti melangkah ke arah tempat tidur sambil melirik pada Ismanu.
Tiba – tiba Kunti tergelincir dan jatuh menimpa Ismanu.

ISMANU :
Kuun…. !!

Ismanu segera menangkap tubuh Kunti. Pakaian minim Kunti tersingkap.

KUNTI :
Kepalaku pusing mas.

Tangan Kunti menggelendot pada leher Ismanu.
Ismanu meletakkan tasbih dan kopiah di atas sejadahnya, lalu mengangkat tubuh Kunti ke atas pembaringan.

KUNTI :
Mas, mari kita rayakan kemenangan ?

ISMANU :
Maksudmu….

Kunti langsung membuka kancing baju Ismanu.
Ismanu menyingkap pakaian minim Kunti.

INTERCUT Pada Siluman Buaya Buntung yang keluar dari kolam renang dan
berjalan ke arah kamar kunti.

PARALEL CUT

49. EXT. TERAS MASJID / ANGKASA. MALAM

Kyai Damar berdiri di teras Masjid menghadap ke arah langit. Sorot matanya tajam.

KYAI DAMAR :
Yah Allah, singkirkanlah iblis jahat yang akan menjerumuskan hambaMu
ini. Juga lindungilah dia, Ismanu, Berilah kekuatanMu yah Allaah …!

Beberapa saat kemudian, dari dalam raganya, sukma Kyai Damar keluar perlahan melayang ke angkasa, meninggalkan raganya di teras masjid.

Sukma Kyai Damar lambat – laun makin cepat bergerak melayang, melintasi gumpalan – gumpalan awan di angkasa.

PARALEL CUT

50. INT. KAMAR TIDUR RUMAH KURO. MALAM
Cast : Kunti, Ismanu, Siluman Buaya Buntung

Sambil merapikan rambutnya yang kusut masai, Kunti berdiri di sisi ranjang, menatap tajam penuh dendam pada Ismanu, yang saat ini terlentang tidur dan terlelap.

Kunti jalan berjingkat membuka pintu kamarnya.
Pintu kamar terbuka lebar. Kunti segera keluar dan Siluman Buaya Buntung langsung masuk ke kamar dengan membuka rahangnya lebar – lebar.

Ismanu menggerakan kepalanya, lalu mengigau.

ISMANU :
Kuun…. Kuuntiii…. bau apa inii… anyiirr…amiis…!!

Siluman buaya buntung dengan kecepatan yang luar biasa menubrukan rahangnya ke bagian batok kepala hingga ke leher Ismanu.

Tak terdengar suara jeritan ataupun erangan , kecuali tangan dan kakinya yang meronta – ronta tanpa sasaran, berlangsung hanya beberapa saat. Selanjutnya tangan dan kakinya lunglai seketika.

INTERCUT TO

51. EXT. PANGGUNG GEMBIRA. MALAM
Cast : Sukri, Bu Rom, Warga Desa, Ujo

Perayaan kemenangan telah sampai pada puncaknya. Para warga desa kini berjoget di atas panggung, bersama biduan orkesnya. Juga Ujo joget di panggung.

Tiba – tiba dari atas panggung turun ‘ GEDEBRUG ‘ mayat Ismanu yang telah dipenuhi lumuran darah sekujur tubuhnya.

UJO :
Haa… Ismanu !!

“ AAAAAW……. MAAYAAAT…….! Seketika warga desa yang berjoget di atas panggung, memekik histeris dan kalang kabut.

Sementara warga kalang kabut, Ujo dengan tenang menurunkan mayat Ismanu dari atas panggung.

“ CEPAAAT…. LARIIII…. ADA SILUMAAAN …Segera warga desa berlompatan terjun dari atas panggung, hingga jatuh saling tumpang tindih.

INTERCUT Pada Sukri yang muncul dari belakang panggung dan Bu Rom yang
rambutnya kusut masai dan tidak menor lagi, berlari sambil menjerit.

SUKRI :
Bubaar… semuaa.. bubaar… adaa .. silumaan … !!

Bu rom mengejar sukri dan memegangi baju Sukri yang terlepas kancingnya.

BU ROM :
Bang Sukrii..Toloong …Silumaaan.. !

Sukri tak menghiraukan bu rom. Ia terus menghindar, menjauh dari panggung. Bu Rom tetap memegangi baju Sukri dari belakangnya.

CUT TO

52. EXT. PINTU GERBANG RUMAH KURO. MENJELANG PAGI
Cast : Ismanu, Warg Desa, Kyai Damar, Ujo, Sukri, Bu Rom

Pintu gerbang pagar rumah Kunti terkunci dan dirantai gembok.

Datang iring – iringan warga desa membawa mayat Ismanu yang masih berlumuran darah memakai tandu, berdiri di depan pintu gerbang.

UJO :
Bu…buu… buuu…!!

Sukri mengguncang – guncang pintu gerbang.

SUKRI :
Aakh… kemana istrinya !?

UJO :
Mungkin pergi. Lihat gemboknya !

INTERCUT Pada Kyai Damar yang berjalan cepat ke arah gerbang.

SUKRI :
Lalu mayat suaminya siapa yang urus ?

KYAI DAMAR :
Maaf saudara-saudara, sebaiknya mayat ini saudara bawa dan urus
sebagaimana mestinya.

UJO:
Pak, disini rumah istrinya.

KYAI DAMAR :
Tidak saudara – saudara. Ismanu muridku ini, telah terperangkap
iblis betina yang bernama Kunti.

Warga desa terperanjat.

SUKRI :
Pak kyai, jadi, jadii… sisiluman..

KYAI DAMAR :
Ia telah bersekutu dengan siluman buaya dan membunuh keluarga
kalian satu persatu. Wanita inilah yang menjadi biang keladi dari semua
bencana.

Seketika para warga desa tak kuasa menahan amarah. Wajahnya menegang dengan sorot mata yang liar memandang ke arah rumah kuro.

UJO :
Kurang ajar, laknaat … !!

Ujo bermaksud mendobrak gerbang, namun tiba – tiba teriakan ‘ TOLOOONG…!! terdengar dari arah jalan desa. Bu rom berlari – lari dengan nafas tersengal-sengal.

BU ROM :
Paak.. Maas.. semuanyaa… aduuh.. di desaa didesa bnyaak buayaa ..
Banyaaak sekalii .. hi… hiyy.. ngeriii. Hiyy……!!!

SUKRI :
Room.. tenang room… !

Sekejap Kyai Damar tersentak. Lalu hendak pergi. Ujo melihat dan mncegahnya.

UJO :
Pak kyai, mau kemana, jangan pergi, Bantu kami pak !!

KYAI DAMAR :
Maaf saudara-saudara, ada kewajiban yang harus saya penuhi.
Assalumu’alaikuum !

SUKRI :
Laam… hu ! katanya guru Ismanu, ada buaya malah kabur !

Kyai Damar sekejap melayang ke angkasa dan menghilang.

Warga desa terlongo – longo menyaksikan kepergian kyai damar yang melayang.

CUT TO

53. EXT. JALAN DESA. PAGI
Cast : anak desa,

Beberapa bocah saling bertangisan, bertengger pada dahan – dahan pohon di sepanjang jalan desa. Mereka terjebak oleh kawanan buaya yang tiba – tiba muncul dari dalam selokan berair, kubangan angsa ataupun jamban – jamban milik warga.

INTERCUT Pada sebuah pohon yang tubuh batangnya relatif kecil, di semua dahannya digelayuti empat bocah kakak beradik satu keluarga. Sementara orang tua bocah – bocah ini, menaiki pohon yang lebih tinggi. yakni, pohon kelapa.

Di bawah pohon ini, banyak berkumpul buaya yang siap menerkam. Dua diantaranya, selalu membuka rahang yang di arahkan ke atas pohon.

INTERCUT TO

54. EXT. KANDANG KAMBING. PAGI
Cast : Lilis

Di dalam kandang kambing yang berkisi – kisi bambo, Lilis menjerit histeris seorang diri. Sementara di luar kandang kambing ini, sejumlah buaya mengelilinginya sambil melebarkan rahang – rahangnya.

INTERCUT TO

55. EXT. JALAN DESA. PAGI
Cast : Bu Rom

Saat ini Bu rom mencoba menyelamatkan diri dari kejaran kawanan buaya, dengan memanjat sebuah pohon.
Ketika bu rom berhasil meraih sebuah dahan pohon dan segera menggelayutkan tubuhnya, sudut kainnnya menjuntai.
Seekor buaya dengan tangkas mencaplok juntaian kain bu rom, lalu menarik-nariknya. Bu rom tetap bertahan. Ia terus menggelayut sekuat tenaganya. Namun celaka aib. Kain berhasil ditarik moncong buaya, dan kini bu rom dalam keadaan bugiil….

PARALEL CUT

56. SINGGASANA SILUMAN BUAYA BUNTUNG. MALAM
Cast : Kyai Damar, Siluman Buaya Buntung

Kyai terus menggempur dengan pukulan petir beruntun ke tubuh siluman. Namun siluman tak merasakan apapun akibat dari pukulan petir sang kyai.

SILUMAN :
Aaaarrrgh…!!!

Kyai DAMAR :
Benar – benar raja iblis rupanya.

SILUMAN :
Mana lagi seranganmu, hayo habiskan, nanti giliranku menyerang,
kau pasti mampus. Aaaarrrgh…!!

Kyai terkejut saat memperhatikan siluman membuka rahangnya, nampak sebutir mustika sekejap berkulau.

KYAI DAMAR :
Hhhmmm…. ! Bismillahirrohmanirohiim…!

Kali ini kyai tidak menyerang dengan pukulan petir, tetapi nekad menggulati siluman.
Siluman terkejut. Ia berusaha melepaskan diri dari gulatan kyai.

Kyai terus merangsek dan berusaha membuka rehang siluman untuk mengambil mustikanya.
Siluman terus berusaha melepaskan diri dengan berguling – guling dan masuk kedalam lobang, namun kyai tak kan melepaskannya.

Kyai kesal. Ia memukul mata siluman. Dan seketika rahang buaya terbuka lebar . Kyai langsung memasukan tangan dan mengambil mustika buaya.

Setelah berhasil, kyai melompat mundur sambil mengirim pukulan petirnya.
GLUEAAAR .

Seketika siluman hangus terbakar. Dinding atas yang bergantungan sulur – sulur perlahan ambruk menimbuni singgasana siluman. Kyai melesat pergi.

PARALEL CUT

57. EXT. POHON TUBUH BATANG KECIL. PAGI
Cast : Empat Bocah Kakak Beradik

Empat kakak beradik terlongo-longo memperhatikan kawanan buaya di bawah pohon tempatnya berlindung, tiba – tiba berubah menjadi gumpalan – gumpalan cahaya. Selanjutnya gumpalan cahaya melesat terbang ke angkasa.

PARALEL CUT

58. EXT. RUMAH KURO. PAGI
Cast : Kunti, Warga Desa

Kunti telah mengemasi seluruh harta kekayaannya. Ketika melangkah ke arah jalan desa hendak melarikan diri, tiba – tiba tubuhnya berubah menjadi seekor buaya.

Seekor buaya jelmaan kunti terus melata menuju sungai.

INTERCUT Pada warga desa yang berlari mengejar buaya jelmaan kunti.

UJO :
Cepat!

Pelarian kunti buaya telah sampai di tepi sungai

SUKRI :
Waah lolos !!

Perjalanan pelarian kunti berhasil. Kunti buaya berhasil masuk dan menghilang ke dasar sungai

Tiba – tiba dihadapan warga desa telah berdiri Kyai Damar.
Warga desa segera mengerumuninya.

KYAI DAMAR :
Saudara – saudara, telah kalian saksikan sendiri. Orang yang meminta
berkah dan rizki pada iblis, niscaya akan sengsara. Baik di dunia maupun
kelak di akhirat nanti. Selain daripada itu, selalu saja membawa bencana
bagi yang lainnya.

Para warga desa tertunduk merenungi perkataan kyai Damar.

S e k i a n
Jakarta, 5 Februari 2006

Akhmad Aulia
Jl. Jelambar Ilir 001/05 No.31 A Jak – Bar
Tlp. 56961359

Synopsis : Dizinahi siluman Buaya Buntung

Kunti dan kuro diusir dan dihukum warga desa. Berdua harus pergi meninggalkan desa dengan cara menyebrangi sungai. Sementara semua orang desa tahu bahwa kunti dan kuro sama – sama tak dapat renang.

Dalam penderitaan yang seakan tak berujung dan hinaan yang selama ini diterimanya, kuro gelap mata hati dan pikirannya. Ketika berdua harus masuk ke sungai, Kuro sesambat.

Dalam sambatannya ia berkata bahwa , setan atau iblis atau marakayangan apapun yang dapat menolong mereka berdua, mereka akan menuruti semua saratnya.

Ternyata sesambatnya didengar oleh siluman penunggu sungai itu. Siluman penguasa sungai langsung menjemput dan menyelamatkan mereka dari siksaan warga desanya.

Maka dalam waktu yang sangat singkat, kuro dan kunti menjadi orang terkaya di desanya. Namun mereka berdua diwajibkan menyerahkan tumbal-tumbal sebagai sarat kekayaannya. Sehingga mau tidak mau kuro dan kunti mengorbankan warga desa sebagai persembahan pada junjungan silumannya. Dengan begitu, kekayaannya makin bertambah

Ketika hidup penuh bergelimang harta, kuro dan kunti ingin sempurnakan kebahagiaannya dengan memiliki keturunan. Maka jalan satu – satunya yang harus ditempuh, berdua memohon pada siluman.

Dan ternyata benar-benar aneh. Kunti yang dinyatakan mandul oleh seorang dukun beranak, kini telah hamil. Sungguh tak disadari kunti, lelaki yang menghamilinya, sebenarnya bukanlah suaminya, kuro. Tetapi siluman itulah yang rupanya menjelma menyerupai wujud suaminya.

Kunti melahirkan di tepi sungai didampingi kuro. Dan alangkah terkejutnya kuro saat bayinya berwajah sangat menakutkan. Kuro tak mau punya anak berwajah seram. Ia bermaksud akan membunuhnya. Namun nasib bicara lain. Siluman junjungannya langsung menyelamatkan bayi dan membunuh kuro. Bayi yang sebenarnya adalah hasil benih sang siluman, langsung dibawa ke alam siluman.

Kunti kini hidup seorang diri. Tapi tak berapa lama ia dapat jodoh, seorang santri muda, ismanu namanya. Dalam satu peristiwa, ismanu membunuh anak kandung kunti. Ia tidak tahu bahwa anak siluman yang dibunuh adalah anak kandung kunti, hasil hubungan gelapnya dengan siluman. Kunti sakit hati yang tak terperihkan.

Maka kematian anaknya dibalas dengan kematian ismanu. Guru pondoknya, kyai damar balas menyerang siluman.

Asmara Dewi Laba2

February 14th, 2006 by maestro

Synopsis :                      A s m a r a  dewi  Laba – Laba

Oleh         : Akhmad Aulia

1.

Seorang pemuda miskin dan sudah tak berayah. Ia hidup bersama ibunya yang sudah tua renta, menempati rumah gubug di sebuah desa terpencil. Pemuda ini bernama Johan. Dan ibunya bernama Nyi Tona. Aktifitas sehari – hari untuk mempertahankan hidup, mereka mencari kayu bakar di hutan untuk dijual.

Johan cukup lumayan ganteng. Karenanya ia disenangi dan dicintai oleh seorang gadis tercantik di desanya, yang bernama Ningrum. Gadis ini anak semata wayang dari sepasang suami istri Pak Broto dan Bu Broto. Sebuah keluarga yang keadaan ekonominya cukup menonjol dibanding dengan sesama warga di desanya.

Mengetahui Ningrum mencintai Johan, Pak Broto dan istrinya langsung mengatakan pada putrinya bahwa mereka tidak setuju. Bahkan ketidaksetujuan mereka berlanjut pada usaha mempertemukan Ningrum dengan Bajul, dan akan dijodohkan sesegera mungkin.

Pak Broto tahu persis bahwa Bajul setiap kali pulang ke desa, selalu membawa uang yang sangat banyak. Dan Pak Broto tidaklah salah pilih bila menjodohkan anaknya dengan Bajul. Keadaan Bajul jelas berbeda dengan kondisi Johan yang dia tahu persis, seperserpun uang tak pernah ada di kantongnya.  Dan diluar pengetahuannya, Bajul adalah seorang penjahat yang sering melakukan tindak kejahatannya di luar desa bersama dua rekannya. Yakni Rojak dan Landung.

 

Ningrum gelagapan dan kalang kabut mengetahui rencana kedua orang tuanya. Ia nekad mengajak pujaan hatinya, Johan, kawin lari. Johan yang memang cintanya selalu dihalangi oleh kedua orang tua Ningrum, langsung menyanggupi ajakannya. Apalagi ia pernah disuatu ketika, kepergok Pak Broto saat jalan bersama Ningrum. Pak Broto menghina dan memukulinya di muka umum. Sungguh ia tak punya muka saat itu.

Johan dan Ningrum pergi meninggalkan desanya saat menjelang malam. Namun usahanya membawa kabur Ningrum kandas. Saat di tepi hutan mereka dicegat Bajul cs.

Rupanya bajul mengejar mereka atas suruhan Pak Broto yang sebelumnya sudah curiga pada gerak gerik Ningrum menjelang kepergiannya.

Bajul yang merasa mendapat mandat dari Pak Broto, ditambah pula rasa cemburu melihat Ningrum gadis idamannya hendak dibawa kabur, langsung merampas Ningrum lalu menghajar dan  hendak membunuh Johan di tepi hutan. Johan tentu saja menghindar kabur ke tengah hutan, menyelamatkan diri. Rojak dan Landung pengawal setia Bajul, tak mau mengecewakan ‘boss’ nya. Berdua terus mengejar Johan dan benar – benar hendak melenyapkannya.

Johan terus berlari menghindar dari kejaran Rojak dan Landung. Ketika tak ada lagi jalan untuk menghindar, ia melihat ada sebuah goa di tebing jalan setapak yang nampaknya tak pernah dijamah manusia.

Goa

ini tertutup rapat tumbuhan liar yang menjalar. Diantara jalaran dan atap goa, banyak dipenuhi sarang laba – laba.

Tanpa pikir panjang, Johan bermaksud langsung masuk dan bersembunyi di dalamnya. Ia nekad menerobos jaringan serat laba – laba yang menutupi lobang goa. Namun saat ia menerobos masuk, tubuhnya terasa membentur sesuatu benda, hingga benda tersebut terlontar dan jatuh.

Di dalam goa ini hidup dan matinya dipertaruhkan. Seandainya Rojak dan Landung mengetahui ia sembunyi di tempat ini, niscaya mereka akan membunuh dirinya. Dengan debaran jantung yang tak terkirakan, ia memandang ke  arah luar goa, memastikan Rojak dan Landung tak mengetahui dan memasuki goa.

Namun sebuah keanehan terjadi. Beberapa ekor laba – laba kecil seketika muncul di Lubang goa dengan cepat membentuk jaringan baru serat laba – laba.  Dan jaringan serat laba – laba lambat laun membentuk kembali seperti semula. Rapat dan menutupi seluruh lubang goa.  Diantara celah – celah jaringan serat, Johan melihat Rojak dan Landung celingukan di luar goa. Mereka berfikir tak mungkin Johan masuk ke dalam goa karena jaringan serat goa masih utuh. Berdua hanya duduk melepas lelah di depan goa.

Belum hilang dari rasa takjub pada jaringan serat yang telah menyelamatkannya, ia dikejutkan oleh satu sosok siluman laba – laba besar yang sangat menakutkan dan menyeramkan, yang kini merangkak berjalan ke arahnya.

Seketika Johan pucat pasi. Namun hanya sesaat. Karena sosok siluman laba-laba besar dihadapannya berubah menjadi satu sosok wanita cantik bagai dewi kayangan. Sosok wanita cantik ini berdiri sambil tersenyum. Beberapa saat Johan terpaku dan terpesona.

Sosok dewi cantik ini memperkenalkan dirinya bernama Cempaka. Ia berterima kasih pada Johan karena telah menabrak dan menjatuhkan dirinya yang telah empat ratus tahun dihukum dalam keadaan menggantung, kini terjatuh dan menyentuh bumi.  Ini berarti ia terlepas dari sebahagian hukuman yang harus dijalaninya. Ia kini dapat merubah wujud menjadi sosok manusia. Tetapi sebatas bila matahari tenggelam. Bila matahari terbit, kembali berubah menjadi siluman laba-laba yang sangat menakutkan.

Untuk menyempurnakannya agar kembali menjadi manusia, ia harus diperistri oleh manusia. Selain dari itu, keharusannya disetiap gerhana, meminum darah manusia.  Karenanya Dewi minta pada Johan untuk memperistrinya, untuk mempermudah keinginannya. Bila Johan menolak, ia tak segan – segan membunuhnya. Karena ia merasa harapannya untuk  kembali menjadi manusia, sirna. Tapi bila Johan bersedia, Cempaka akan mengabulkan apapun yang dinginkan Johan.

Johan yang dalam keadaan terjepit, terhina dan tak punya muka di depan orang sedesanya, segera menyambut ajakan Cempaka. Ia bersedia dan berjanji akan memperistri Cempaka, tapi dengan syarat, bila dendam pada orang – orang yang telah menyakitinya sudah terbalas. Juga bila telah memiliki harta seperti juga yang dimiliki orang – orang kaya yang ada di desanya. Mendengar syarat yang dikemukakan Johan, Cempaka langsung berjanji akan membantu sepenuhnya.

Maka sejak saat ini, Cempaka dan Johan bersekutu dan memburu mereka – mereka yang telah menyakiti Johan disetiap terjadi gerhana. Dan di setiap akan terjadi gerhana, masyarakat hafal bencana akan terjadi. Tetapi mereka tak mampu berbuat apapa. Sementara jarak waktu antara gerhana satu dengan gerhana lainnya sangat berdekatan.

2.

Hubungan antara Johan dengan Cempaka semakin akrab. Pernah di satu malam, Ningrum sepulang mengaji, memergoki Johan bersama Cempaka kala Johan menengok Ibunya. Tentu saja Ningrum cemburu dan marah pada Johan. Iapun memutuskan untuk menerima pinangan Bajul.

Bajul gembira dengan perubahan yang terjadi pada diri Ningrum. Iapun mendesak pada Pak Broto, calon mertuanya, agar pernikahan antara dirinya dengan Ningrum secepatnya dilaksanakan. Sementara Pak Broto menunda pernikahannya dengan alasan masih berkabung atas kematian Bu Broto.  Alasan ini tak dapat diterima oleh Bajul. Apalagi ia merasa sudah banyak keluarkan uang pada Pak Broto. Maka dengan cara memaksa, Bajul mengundang  seorang penghulu mendatangi Pak Broto dan Ningrum agar segera melaksanakan pernikahan.

Dalam paksaan Bajul, Pak Broto siap nikahkan Ningrum dengan Bajul di malam gerhana terjadi. Namun Johan yang diam – diam masih mencintai Ningrum, segera binasakan Bajul dengan bantuan Cempaka. Kebetulan memang Bajul tengah diincar karena selalu meremehkan dan menantang Cempaka.

Bajulpun akhirnya binasa. Kini dendam Johan tersisa tinggal seorang. Ialah pak Broto. Tetapi justru kini terjadi perubahan pada diri Pak Broto. Rupanya harapan Pak Broto mendapatkan menantu seorang yang berharta telah beralih pada Johan. Ia tanpa malu meminta Johan agar menikahi putrinya.

Nyi Tona menyadarkan Johan agar jangan mendendam pada sesamanya. Namun nasehatnya sangat terlambat. Johan sudah bertekad harus menghabisi Pak Broto. Tak perduli dengan semua perubahan yang terjadi pada diri Pak Broto.  Dendam adalah dendam. Pak Broto harus binasa sebagai korban terakhir dari dendam kesumatnya. Dan pembinasaan terhadap diri Pak Brotopun dilaksanakan juga, dengan meminjam tangan Cempaka. Pak Broto kini telah tewas. Ningrum hidup sebatang kara.

Johan kini harus segera memenuhi janjinya pada Cempaka, menikahinya layaknya manusia. Tetapi di saat yang bersamaan, hatinya kembali terpaut pada Ningrum.

Karena cintanya yang sangat mendalam pada Ningrum, Johan lupa pada janjinya sebagai orang yang pernah ditolong dan diselamatkan Cempaka.  Karenanya ia harus menerima akibat dari pengkhianatanya ini. Cempaka tak mau memberi ampun pada manusia yang telah mengingkari janjinya. Ia mengutuk dan merobah wujud Johan menjadi seekor laba – laba.  Meskipun Cempaka sendiri untuk selamanya tak

kan

pernah dapat berubah menjadi manusia lagi.          S e k i a n.

                                                 

Jakarta

,  9 Februari 2006  Akhmad Aulia. ( 021 ) 68164812

kabar dari belanda

July 28th, 2005 by maestro
1 1 Iordachescu,Viorel 2606 3 5,5 5,5
1 8 Megaranto,Susanto 2499 3 4,5 4,5
1 9 Senff,Martin 2467 3 5 5
1 15 Bosboom,Manuel 2419 3 6 4,75
5 2 Ikonnikov,Vyacheslav 2560 2,5 5 3,75
5 3 Novikov,Stanislav 2534 2,5 5,5 4,25
5 4 Nijboer,Friso 2529 2,5 5 3,75
5 6 Turov,Maxim 2527 2,5 4 3,5
5 7 Savchenko,Stanislav 2506 2,5 4 3,25
5 10 Gutman,Lev 2465 2,5 5 4,25
5 11 Bosch,Jeroen 2465 2,5 5 3,75
5 13 Jonkman,Harmen 2454 2,5 5 3,75
5 16 Hoeksema,Erik 2406 2,5 5,5 4,25
5 18 Slavina,Irina 2391 2,5 3 2,25
5 21 Haimovich,Tal 2375 2,5 4 2,75
5 24 Halay,Taufik 2320 2,5 4,5 3,25
17 5 Miezis,Normunds 2527 2 4,5 2
17 12 Kurenkov,Nikolai 2455 2 5 2
17 17 Werf,Mark van der 2397 2 4 2,25
17 19 Odendahl,Reiner 2376 2 5 2
17 20 Livshits,Gaby 2375 2 6,5 3,5
17 22 Brandenburg,Daan 2371 2 5 2
17 23 Purnama,Tirta 2337 2 3,5 1

Ketua Umum Percasi

June 27th, 2005 by maestro

Eddie Widiono Ketua Umum PB Percasi 2005-2009
       

       
          Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, bersama ini disampaikan bahwa : 

DENGAN INI MENETAPKAN, MENGANGKAT :

SDR.
IR. EDDIE WIDIONO, MSC SEBAGAI KETUA UMUM PENGURUS BESAR PERSATUAN
CATUR SELURUH INDONESIA (PB PERCASI) MASA BHAKTI 2005-2009…

Begitulah
bunyi alinea pertama Hasil Keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa
(Munaslub) tahun 2005 Percasi yang ditandatangani oleh Ketua Sidang:
Djamil Djamal, MN, WI, dua anggota: GM Drs. Utut Adianto dan Sebastian
Simanjuntak, FM serta dua perwakilan daerah Sutoto Yacobus (Jatim) dan
Drs. Zaenal Asmada, WN (Sultra).

Sebelumnya Munaslub pun telah
membuat satu keputusan lainnya yakni tentang diterimanya Laporan
Kerja/Pertanggung Jawaban PBs Percasi periode November 2004 sd. Juni
2005.

Saudara pembaca indochess yang berbahagia,

Demikianlah
sejarah baru percaturan Indonesia telah ditorehkan di Hotel Kartika
Chandra Jakarta ketika tepat jam 16.38 secara aklamasi seluruh peserta
Munaslub tahun 2005 Percasi (hadir 29 pengda dari 31 pengda
se-Indonesia) memilih Ir. Eddie Widiono MSc. sebagai Ketua Umum PB
Percasi periode masa bhakti 2005-2009.

Rangkaian acara Munaslub
tahun 2005 Percasi diawali dengan kedatangan para peserta sejak sabtu
tgl. 25 Juni 2005, dilanjutkan dengan acara “dinner and welcome party”
yang selain dihadiri oleh Pejabat sementara PB Percasi Drs. GM Utut
Adianto beserta segenap jajaran pengurus PBs dan perwakilan pengda,
juga berkenan hadir Bapak Ir. Eddie Widiono, MSc. yang dengan rendah
hati menyatakan kesediaannya ditunjuk/dipilih sebagai Ketua Umum PB
Percasi masa bhakti 2005-2009.

Jumlah peserta yang hadir
mewakili pengda sampai menjelang dibukanya Munaslub jam 10.30 minggu
pagi sudah mencapai 25 pengda dan akhirnya saat Munaslub resmi dibuka,
peserta sudah mencapai 29 pengda (yang absen NTB dan Maluku Utara).

Munaslub
ini juga diwarnai dengan hadirnya sekaligus dua tokoh tertinggi
olahraga nasional, yakni Ketua Umum KONI Pusat Jenderal TNI Purn. Agum
Gumelar dan Menpora H. Adhyaksa Dault, SH MSi. Keduanya datang hampir
bersamaan, dan didepan hadirin yang sudah memenuhi ruangan, keduanya
bersalaman dan berpelukan, dan langsung disambut dengan tepuk tangan
gemuruh seluruh peserta. Jika Pak Agum yang membuka resmi Munaslub ini
dengan diawali pidatonya yang mantap, maka Pak Adhyaksa yang enerjik
itu berkenan memukul gong tanda dimulainya rangkaian Munaslub tahun
2005 Percasi ini.

Pembaca indochess kayaknya setuju ya, bahwa
Munaslub Percasi ini begitu istimewa dan jarang terjadi pada
Munas-munas cabang olahraga lainnya, karena telah diawali dengan
langkah pembukaan alias “first move” yang jitu yakni mempersatukan
kedua tokoh olahraga nasional itu dalam nuansa penuh kekeluargaan.

Master Nasional norm

May 8th, 2005 by maestro

Setelah bertanding selama 7 akhirnya daku mendapat hasil yang cukup memuaskan … aaahhhhhhh ..
bertanding sistem swiss 9 babak berhasil mendapatkan 6 poin … berikut hasil2nya :

Muhammad Namzir         vs     Wahyu Aryo                    0-1
Wahyu Aryo                        vs     MN. Asrul Aray            0-1
Daniel                                  vs     Wahyu Aryo                0-1
Wahyu Aryo                  vs    MN. Dede Suryana      0-1
Supadi                          vs    Wahyu Aryo               0-1
Wahyu Aryo                  vs    MN. Didik Widiarso    1-0
MN. Asep Black             vs    Wahyu Aryo               1-0
Wahyu Aryo                  vs    MP. Udin Syafriun       1-0
MP. Wilman D. Endey    vs    Wahyu Aryo                    0-1
       
Berikutnya adalah turnamen Telkom Open tanggal 22 Mei 2005 .. will see you soon

hunting barang

May 1st, 2005 by maestro

Kamis 28 April hunting barang ..
12.30 Awalnya ke cikupa deket polsek hunting barang .. ketemu pa deni .. setor duit .. rencana ambil satu truk .. 13.00 cabut lagi ke arah bekasi  naek bis ke kalideres dulu .. mayan bisa tidur .. habis shift malem nih … dari xderes naek 49 ke bekasi deket2 daerah xmalang .. ketemu rapto .. tiba sekitar pukul 16.00 ,

milih2 ada 22 tabung monitor .. trus mesinnya dapet 155 kg .. kabel data u/ monitor 279 buah ..  hari sudah cukup sore belum sempet  milih2 casing  monitor,

nyari kendaraan .. namanya pa yan .. panther pick up .. jalan ke bandung  start 18.30  nyobain jalan tol baru cipularang  .. gratis keneh euy  ..
jam 8 malem dah tiba di  padalarang .. anjrit cepet banget .. bekasi bandung 1 1/2 jam .. tapi pa yan ngeluh jalan tol cipularang teh gak rata .. jakan nanjak derajat dikit tapi panjang .. gak bagus ke mesin ..

nurunin barang di padalarang .. minum teh dulu .. pa deni juga baru tiba dari cikupa bawa truk .. tapi muatannya belum penuh .. cuma 30 monitor 17" .. belum ketemu yang punya katanya .. cuma dapet oleh2 30 monitor ..

20.30 turun lagi .. nyari makan dulu dapetnya soto cianjur lumayan enak ..
begitu mo keluar .. gubrak mobil masuk lubang (aduuuuuuh .. eu kaciri euy )

stabiliser mobil patah .. terpaksa deh nongkrong dulu .. pikir2 nyari akal ya udah ditahan dulu pake kunci pas … jam 22.30 mobil mulai melaju ..

cipularang lagi jalanan nurun .. gak tahan nih ngantuk banget .. bangun2 dah nyampe cikarang ..
tengah malem pas nyampe di rumah kang rapto ..

tidur dulu ah ..

jumat pagi jam 7 sarapan nasi goreng .. minum jus alpukat (my favorite drink)
jalan jam 9an ke bca xmas mo transfer .. antri banget .. jam 10.30 jalan ke tempat  casing ..
jam 11.30 nyampe . jumatan dulu di pasar setu ..

13.30 milihin barang . dapet 35 set .. casing LG Flatron  …
tangan bentol2 nih .. sedikit alergi nampaknya …

16.30 jalan ke pa hamid liat mesin monitor .. ada segunung   , 40 ton sepertinya .. numpuk pisan euy .. 4000 rupiah sekilo ..
balik lagi ke tempat rapto jam 19.00 ..
bicara2 sedikit … nelpon pa deni … makan cumi asem manis trus pulang deh to my lovely home perumnas 3 ..

liat bentar orang maen catur (latian dikit juga persiapan japfa ) di bulak kapal ..

pulang ke rumah .. cape banget .. tidur ah .. besok pagi masuk kantor nih plaza mandiri ..

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzt ……………………………

download

April 21st, 2005 by maestro

nelpon pak deni 2x tak diangkat tadinya mau nanyain status ruko apakah sudah diambil atau belum
download HDD Regenerator untuk tools perbaikan harddisk … versi 1.41
downloan Skema2 untuk monitor komputer .. untuk anak2 biar ada panduan untuk perbaikan dan perakitan .. sampai saat ini belum selesai .. lanjut lagi besok pagi .. banyak banget !!!! belom lagi untuk diprint !!!!
cek overtime baru aja masuk .. cek absen tapi yang tanggal 9 maret sepertinya kurang nih …

TAG sempet2nya nelpon sich .. padahal khan udah jam 1/2 dua malam
bikin surat perjanjian kerjasama ..
bikin surat penawaran barang kepada lion monitor ..
bikin laporan pembukuan .. ntar rencana tanggal 25 bayar gajian ..
siap2 tidur nih besok libur panjang 3 hari ..